“Hallo, ada apa?”
“Ter, kamu masih tidur di jam segini?”, dibarengi ledekan suara tawa.
Dari suara dan gaya bicaranya, aku berfikir sejenak. Terdengar tidak asing, akan tetapi bukan seperti dua orang yang aku duga sebelumnya.
Ponsel ku bahkan tidak tertempel dengan benar di telingaku. Aku tidak bisa dengan jelas mendengar suara si penelpon. Karena males berfikir untuk sekedar mencari tau, aku akhirnya hanya menjawab asalan lagi dengan nada suara rendah.
“Hmm,,, aku ngantuk”. Kembali menguap.
Seketika, terdengar suara tawa cekikikan di seberang sana. Aku masih bingung plus ngantuk. Bodo amat, apa peduliku. Toh jika dia ada urusan denganku, seharusnya sedari tadi di utarakan. Bukan malah keterusan mengganggu. Dasar orang aneh!
Setelah capek tertawa agaknya, kini si’penelpon melanjutkan responnya.
“Jangan mengeluarkan suara seperti itu, kamu bisa membuatku berfikir yang bukan-bukan”
Nada suaranya tenang dengan sedikit menggodaku. Setelahnya, suara tawa mengejek itu kembali terdengar.
Aku yang tadinya sangat amat mengantuk. Tetiba merasa panas sendiri diledekin pagi-pagi, apalagi oleh orang yang tidak berkepentingan begini. Alhasil rasa kantukku hilang berhamburan entah kemana. Kini berganti jadi rasa sangat amat jengkel. Ku lirik layar ponsel yang menyala, mencari kepemilikan nomor dari sumber suara.
.
“Hm, nomor baru”, gumamku penasaran.
“Apa mau mu?”. Suara ku mulai meninggi.
Bukan, bukan kata-kata itu yang seharusnya aku tanyakan. Bukankah terlebih dahulu aku harus mengetahui siapa si’penelpon di seberang sana. Nomor pribadiku dapat dari siapa? Kenapa mengganggu libur tenangku? Yang lebih mengesalkan, kenapa dia suka sekali tertawa tanpa ada yang lucu.
Pertanyaanku tidak digubris, hanya suara tawa lagi dan lagi yang terdengar di telingaku. Aku jadi gusar sendiri menggaruk kepala belakanganku, padahal tidak gatal. Ah, sial.
“Maaf, kalo nggak ada urusan. Aku tutup ya. M-e-n-g-a-n-g-g-u banget!”, ketusku final dengan kata-kata terakhir seganja aku tekankan.
“Eh, tunggu dulu. Satu jam lagi aku samperin ke sana. Cepetan siap-siap. Mandi!”.
klik. Terdengar panggilan diakhiri.
Next Chapter… #4
by @terryselvy


Satu pendapat untuk “Bagian 3: Stranger”