“Gimana? Udah siap”, sambil tersenyum ke arahku.
Sapanya saat aku muncul dengan style kasual di balik pagar rumahku.
“Eh, iya. Udah nih. Udah lama nunggu?”. Sembari membuka dan menutup kembali pagar.
Pertanyaan basa-basi ku kepadanya. Padahal aku tau, sedari 15 menit yang lalu mobil itu setia diam manis di sana.
“Buruan masuk!”. Arah pandangannya beralih kesamping seakan memberitahu bahwa aku harus membuka pintu sendiri.
Buru-buru aku melangkah menghampiri, membuka dan menutup pintu di samping kemudi itu sendiri. Segera ter-henyak duduk, mencari posisi nyaman. Memasang seat belt, tanpa menoleh ke arah kemudi, kembali aku layangkan pertanyaan basa-basiku.
“Hmm. Mau ke mana kita?”
Namun, tak ada jawaban. Ku lirik sekilas wajahnya (hanya ekspresi datar). Aku putuskan diam dan mengalihkan pandangan keluar jendela. Kendaraan mulai melaju se-irama musik hidup.
Jauh dari keramain dan hiruk-pikuk liburan akhir pekan yang heboh. Pagi ini, di depan rumahku, aku mampu membuat sebuah pertemuan yang dulu secara drastis pernah mengubah takdir ku, dengan seseorang.
Orang itu, dia. Orang asing yang telah berani mengganggu ketenangan ku pagi ini. Dia tidak hanya orang asing yang pernah ku kenal yang datang kembali untuk liburan di sini. Tetapi juga orang yang pernah menjadi pusat perhatian ku semenjak beberapa tahun lalu. Hingga kini masih berani mengganggu ku.
Dari sudut pandang ku, dia bernilai satu atau dua jauh lebih dari penilaian siapa pun. Bila dibanding dengan beberapa teman dekatku yang lain, dia orang yang sepenuhnya dari dunia yang berbeda dariku.
Seolah dia keberadaannya jauh di atas awan. Namun, orang itu sudah mengatakan padaku, bahwa hubungan kami spesial untuknya. Bahkan lintas berbagai perbedaan sekali pun. Kami sama-sama paham akan itu.
Lagi-lagi peran takdir yang dipertanyakan di sini. Semua kejadian di muka bumi ini, sangat sulit untuk diprediksi. Pertemuan adalah takdir, mengenal satu sama lain juga sudah takdir. Hari ini, semua yang telah kita alami, itu juga adalah takdir? Lalu apa kau percaya dengan kata-kata itu? Kalau pada akhirnya, semua yang kita jalani di dunia ini hanyalah sebuah mimpi?
Next Chapter… #5
by @terryselvy


2 tanggapan untuk “Bagian 4: Between you & I”