2 cangkir latte + 1 potong cake
“Ehm… kita langsung pulang, atau…”
(Aku mengalihkan pandangan dari ponsel, menatap tepat ke wajahnya)
Aku sengaja menggantung pertanyaanku. Menunggu respon dan tanggapan darinya. Sekaligus berusaha mengusir keheningan di antara kami.
Sudah 1 jam semenjak aku duduk saat kembali dari toilet. Kami masih belum banyak berbicara. Dia masih betah memilih diam. Kami seperti sibuk dengan kesibukan masing-masing. Buka, kami. Hanya aku saja yang mencari kesibukan, berkutat dengan ponsel nya. Men-scroll layar, melihat beberapa gambar yang tampil di beranda platform instagram dia. Tidak ada yang menarik.
“Terserah kamu. Masih ada waktu 2 jam”
(Dia membalas tatapan ku datar)
“Oh, iya. Kamu latihan jam 4’kan?”
“Hmm…”
(hanya itu jawabnya)
“Yaudah, kalau gitu balik dari sini kita ke tempatmu aja. Aku tungguin ganti seragam dan ngambil peralatan. Sekalian nanti berangkatnya bareng, kita”. Saranku, antusias.
Tapi malah dapat tanggapan berlebihan dari dia. Kali ini dia langsung menatap ku tajam seperti minta penjelasan lebih. Tidak seperti tadinya, yang malas tak berekspresi.
Menyadari kebingungan itu, aku malah terkekeh-kekeh geli. Dia kira aku mau ikut latihan lagi. Ya enggak lah, aku sudah lama vakum juga ‘kan latihan. Kalau pun mau ikut gabung bareng mereka lagi, aku butuh persiapan fisik terlebih dahulu. Minimal 2 minggu – 1 bulan buat menempa kembali fisik ku, biar dapat seperti sedia kala/minimal dapat meng-imbangi latihan rutin.
“Eh,, masukku. Balik dari sini aku ikut ke rumah dan nungguin kamu siap-siap dulu biar nggak telat nanti ke tempat latihannya. Nah, abis itu kamu nganterin aku ke gramedia. Pan gramedianya searah sama tempat latihan. Dari pada bolak balik lho, boros. Hehe”. Aku tersenyum canggung.
Dia mengangguk-angguk kecil, sambil ikut tersenyum. Sepertinya dia paham dengan penjelasan ku.
“Trus, mau balik sekarang?”. Tanya dia, sembari membenarkan lengan kemeja nya.
“Err… Terserah, kamu sih”
Kali ini aku yang menjawab terserah atas pertanyaannya. Ngapain coba tadi dia jawab terserah tapi ngasih embel-embel batasan 2 jam segala, saat aku tanya. Biarin dia mikir dan memutuskan sendiri, mau pulang kapan. ‘Kan aku ngikut dia, pikirku ngebales. Wkwk ✌
Akhirnya, tanpa perdebatan apa-apa kita memutuskan kembali dan meninggalkan cafe/ bar coffee, dengan tujuan ikut dia ke kediamannya.
Next Chapter… #10
by @terryselvy

