Bagian 10: Forgotten

Sesampai di rumah, aku memilih turun duluan meninggalkannya biar membawa tas kami. Aku mendahuluinya untuk masuk duluan karena di luar terasa sangat panas.

Menghempaskan tubuhku duduk di sofa ruangan tamu, sambil terus memainkan games di ponselku. Sesekali aku menggeram kesal saat kalah. Tampa sadar dia sudah berdiri di depanku. Menatapku datar, sedetik kemudian dia melemparkan tasku yang ada di tangannya ke arah sofa tepat di sampingku.

Hei, tiati!” kagetku spontan.

Mau minum?” alisnya terangkat sebelah.
atau kalo laper ambil sendiri di belakang. Orang-orang masih di luar. Aku ganti baju, siap-siap dulu“, lanjutnya sambil berlalu meninggalkan ku. Dia terus melangkah menaiki tangga menuju atas, tentu saja kamarnya.

Yap. Tau! Ucapku dalam hati.

Bagaimana aku bisa lupa. Tanpa diingatkan pun aku sudah terbiasa di rumah itu seperti rumahku sendiri. Mau apa-apa ya tinggal langsung saja semauku kalau tidak ada orang, kalau pun ada orang palingan aku juga bakal disuruh ambil sendiri. Orang aku-nya udah jadi kayak anak bontot di keluarga itu.

Selang hampir 1 jam, kemudian…

Yuk, berangkat.” suaranya mengagetkan ku yang kini sedang asyik menonton TV.
Lah, kok nggak ganti baju?” dibarengi tatapan heran dari wajah flatnya.

Lah, aku cuman mau ke gramed (Gramedia) doang kok“.

Aku meraih remot diatas meja. Menekan tombol off untuk mematikan TV. Meraih tas di sampingku dan menentengnya. Lalu berdiri. Merapikan lipatan dan ujung kemejaku sambil tersenyum ke arahnya.

Oh yaudah, Makan nggak jadi?

Enggak laper. Ntar aja pas balik” jawabku enteng.
Kalo kamu laper, sana makan dulu. ‘Kan kamu yang mau latihan“, lanjutku meningatkan.

Enggak usah… Yuklah langsung” katanya sambil menyodorkan tas atlet nike sporty nya ke arahku.

Aku antar sampai depan gramed ‘kan?” tegasnya sambil berlalu melewatiku.

Ho.oh, nanti aku bisa pulang sendiri kok” kataku sambil melangkah mengekor di belakangnya menuju pintu keluar.

‘Oh tidak, aku melupakan sesuatu’, tapi…
Ya sudah lah, kapan-kapan saja. Toh masih ada hari esok, pikirku kala itu. Aku membuang jauh-jauh kekhawatiran ku atas keteledoran itu. Aku segera berjalan lebih cepat nenyusul nya ke parkiran.

Next Chapter… #11
by @terryselvy

Diterbitkan oleh Terry Selvy

I Tell The Truth Through My Story

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai