Sesampai di lantai 2, aku menjelajahi blok per blok, menyapukan pandangan mata sekilas judul-judul buku yang aku lewati. Lantai dua memang berisikan buku-buku penting dan untuk kepentingannya sendiri.
“Hm, belum ada”, guman ku.
Dari beberapa bulan yang lalu, setiap mengunjungi toko buku aku selalu menyempatkan diri untuk mencari sebuah buku. ‘Somewhere Only We Know’ karya Alexander Thian (@aMrazing). Mungkin banyak dari teman-teman yang sudah sangat akrab dengan nama beliau.
Disaat aku terus berjalan, dan sementara mataku asyik mengamati buku bersampul orange yang berjejer di sebelah komputer searching Gramedia. Tetiba, aku kaget karena hampir menabrak sepasang pengunjung lainnya.
Ternyata salah seorang di antara pasangan yang hampir saja aku tabrak, pria itu. Beliau adalah seniorku. Tidak hanya sebagai seniorku 3 tahun semasa di bangku SMA, tetapi beliau juga seniorku saat awal-awal aku menjadi Maba (Mahasiswa Baru) di Universitas.
Selain itu, dulu kami mengenal satu sama lainnya dengan baik. Bahkan beliau yang menyarankan aku untuk ambil masuk asrama kala itu (yang notabennya aku bukan mahasiswa BM (non-BidiMisi), juga bukan lulusan SNMPTN). Setelah menjadi salah satu mahasiswa asrama (Asrama Hijau lantai 2B), beliau juga yang menyarankan aku untuk ikut andil dan belajar aktif ber-organisasi, kala itu menyuruhku untuk ikut Asosiasi Mahasiswa Asrama (AMA) saat ada open recruitment.
Beliau juga tempat bertanyaku dan yang membantu aku dalam mengisi beberapa bagian dari form formulir dan beberapa persyaratannya, termasuk mengajariku untuk persiapan wawancara dengan pembina asrama. Tentunya beliau tau betul akan hal ini, karena beliaulah ketua AMA saat kami OR.
Berawal dari beliau senior dan anggota aktif Pramuka di SMA-ku. Beliau juga teman akrab dari salah satu kakakku, dan pernah beberapa kali main ke rumah bareng Abang Arif. Saat musim rambutan, saat mengambil kembali jacket yang beliau pinjamkan dan telah dicuci olah kakakku.
Singkatnya, beliau-Kakakku sangat akrab. Kakakku sudah seperti kakak sendiri bagi beliau begitu pun sebaliknya. Bahkan masalah ke-galau-an perkara cinta monyet beliau saja, kakakku sampai ikut pusing mikirinnya.
Nah, karena keakraban itu, beliau pun akrab dengan aku, buku-buku kakakku diturunkan ke-beliau, buku-buku beliau diturunkan ke-aku. Karena kami beda-beda tingkatan. Kakakku setingkat di atas beliau, dan aku setingkat di bawah beliau.
Next Chapter… #14
by @terryselvy

