bagian 17: The Corner

Setelah membayar untuk ‘1 buah donat Cheesecake licious + 1 Cafe Latte size Uno’ aku bergegas meninggalkan kasir sembari menenteng barang belanjaan yang dari Ggramedia tadi di tangan kiri plus di tangan kanan sebuah piring kecil yang berisi 1 donat Cheesecakelicious yang aku pesan.

Aku mengedarkan pandanganku menyapu seluruh isi ruangan, mencari meja yang kosong dengan suasana yang nyaman sesuai kebiasaan ku. Karena lagi ramai pengunjung, tidak banyak meja yang tersisa kosong. Baik di area dalam maupun di area luar ruangan, hampir setiap meja ada yang menempati.

Begitu pandanganku tertuju ke pojok ruangan, ternyata ada 1 meja tinggi dengan 2 kursi yang juga tinggi, terlihat kosong. Di atasnya ada 1 lampu neon yang cukup rendah dengan kerangka-kerangka hiasan yang cantik sebagai penerangan. Di sisi kanan ada jendela kaca yang besar dan tinggi, sebagai pembatas area dalam dan luar ruangan, area yang menghadap ke halaman mall.

‘Tempat yang cukup nyaman’ pikirku.

Aku paling suka memilih duduk di pojokan. Karena akan terasa sedikit lebih privacy dari pada tempat-tempat duduk di posisi strategis lainnya. Alasan lainnya, aku tidak akan menjadi pusat perhatian banyak orang, karena duduk sendirian. Aku juga bebas, bisa mengamati area 180° baik di sisi kanan area dalam ruangan maupun di sisi kiri area luar ruangan plus halaman mall, yang cukup ramai pengunjung. Aku juga bisa berlama-lama semau ku karena tidak akan begitu menarik perhatian. Dan, yang terpenting, tidak akan ada yang mengamati maupun mengganggu ku di sini.

Aku segera melangkah ke meja itu. Duduk di kursi tinggi yang membelakangi dinding. Benar-benar cukup nyaman.
Beberapa menit kemudian…

Cafe Latte size Uno pesanan ku datang. Tapi… (kok jadi size Due?)

Diantar langsung pake baki yang berisi ‘1 cangkir Cafe Latte size Due + 1 glazzy donut bonusnya’ oleh baristanya yang tadi juga menjadi kasir saat aku memesannya.

Sesampai di seberang mejaku, baristanya tersenyum ramah sambil menyajikan kopi pesananku plus tambahan donat gratis ke atas meja.

“Terima kasih, kak.” kataku sambil tersenyum. Tetiba, tatapan ku beralih fokus ke piring berwarna merah yang berfungsi sebagai penadah kopi. Sedikit berantakan, dengan tumpahan kopi. Kok bisa?

Next Chapter… #18
by @terryselvy

Diterbitkan oleh Terry Selvy

I Tell The Truth Through My Story

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai