Rumah BagiKu

Sore ini aku kembali lagi, kembali ke rumah itu. Ke rumah yang selalu sepi seakan tak berpenghuni, kerumah yang selalu aku jadikan tempat berkeluh kesah akan semua masalah, tempat pelarian ternyaman yang paling aku rindukan, setelah jalanan. Aku tidak begitu sependapat dengan mereka mengenai makna rumah sesungguhnya, bagiku rumah tak seistimewa itu mungkin juga lebih baik.

Rumah? Hanya sebuah tempat pelarian, tempat penuh pelampiasan dan tempat bersarangnya rindu pada kebencian, tempat pondasi penguatku dikala lelah dihadapan masalah, aku kembali ke rumah, merenung dan menghempaskan semua, semuanya.

Sore ini, senja menjelang di ufuk barat sana, bayang-bayang ungu hingga jingga membatasi cakrawala. Mendadak aku sadar, hal-hal indah dan luar biasa pada keberuntungan yang selama ini aku nanti-nantikan sebetulnya telah sejak lama terjadi. Seperti berubah nya musim, kejadiannya bertahap perlahan-lahan. Dia juga berubah seperti perubahan pemandangan alam. Perubahan nya nyata hingga dapat dilihat dan dirasakan oleh aku sendiri.

Hari-hari yang akan datang tak kan sana lagi. Setidaknya, tak kan sama selama masih ada musim pergantian siang maupun malam. Dan, kecerahan hari-hari itu tak kan bakal tergantung lagi pada yang namanya rumah. Bukan hanya rumah ini yang bisa membuat hari-hari ku terasa menarik, penuh warna, menantang namun di satu sisi penuh kekecewaan dan dendam yang entah pada siapa harus aku ceritakan. Tapi, aku berharap pada akhirnya ini aku bisa mengejar ketertinggalanku.

Padang, 27 November 2016 (22:06 WIB)
Yang Merindukan Rumah Istimewa
@tsystories

Diterbitkan oleh Terry Selvy

I Tell The Truth Through My Story

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai