Selamat Malam Hujan!
Selamat Malam September!
Tetesan hujan malam ini terasa merdu sekaligus sendu, dari Sore hari hampir malam tiba aku masih berbaring (read : mager). Menikmati denting irama hujan sambil mendengarkan lantunan lagu dari handphone-ku. Lagu yang melow sekaligus galau, ahh mungkin bagi orang lain aku dibilang cukup Aneh karena galau tanpa sebab. Tapi biarkan, hujan malam ini membuatku nyaman terbuai melodi rindu. Di tempat kost-ku, yang sepi karena hujan yang tak kunjung reda. Beberapa saat yang lalu setelah aku selesai mandi, aku bergegas membuka laptop dan entah aku ingin melakukan apa, aku hanya bengong, gundah di depan laptop tua. Belajar mengetik kata demi kata, lalu berusaha aku susun mejadi seikat kalimat tapi baru beberapa kata saja aku sudah males untuk meneruskannya. Hujan di luar semakin menjadi. Seakan air dari langit memanggil ku untuk bermain dengannya. Seandainya siang hari atau pun sore tadi, pasti aku sudah terjun dan bermain dengan air sampai aku menggigil karena kedinginan.
Mata ini tak kunjung atau pun tak merasakan kantuk. Pasti ini karena segelas kopi siang tadi. Kopi bagiku minuman unik dan tak pernah mampu aku pahami, entah pagi, siang, sore atau pun malam aku tak cukup menyukai-nya. Kata (Mereka) Kopi adalah candu, seperti agama adalah candu kata Marx. Hujan tak menandakan reda, sepi di luar semakin terasa. Playlist lagu di handpone-ku ku putar terus, sedikit untuk menepis rasa sepi ini. Karena teman-teman kost-an ku pada balik Pulang kampung di setiap akhir pekan. Oh ya ini weekend, bahkan aku lupa kalau ini Malam Minggu kata mereka para anak muda.
Semakin lama aku melihat hujan, perutku marah karena minta jatah. Aku baru ingat ternyata sedari siang aku belum makan. Terakhir aku makan di luar pas bakda dzuhur. Ah, sebagai anak kost perut lapar atau makan tidak teratur adalah hal yang wajar kata mereka, tapi bagiku tidak. Sudahlah. Menunggu hujan reda adalah suatu yang romantis jika hujannya hanya gerimis. Lama-lama aku bosan juga memandang laptop tanpa tujuan. Cemilan kali ini entah seberapa banyak sudah aku habiskan.
Akhirnya, yang aku tunggu tiba juga. Hujan reda pelan-pelan. Angin berhembus menembus pori-pori. Dingin terasa. Suara tukang nasi/mie goreng, tukang sate, tukang bakso dan batagor “tek tek tek tek”-pun terdengar. Namun, lebih aku masih termenung sendirian di sebuah kost-an yang aku tempati sejak 3 tahun terakhir. Hujan reda, mungkin di atas sana, bintang menampakkan diri mereka atau bersembunyi di balik awan yang hitam. Ah sudahlah, lagi-lagi aku coba menarik napas berat seraya aku coba untuk menutup laptop, entah mau apa, akhirnya aku berfikir untuk istirahat. Berbaring sejenak dan menuju mimpi-mimpi indah-ku.
Tapi, hingga dinihari aku tak bisa memejamkan mataku. Begadang dengan sekumpulan kata-kata yang aku ketik ulang sendiri di handphone-ku, menanti bintang memunculkan cahyanya. Waktu terus berjalan, apakah hari itu atau pun esok aku akan seperti ini? Yang hanya bisa berharap dan merenungi ada tawaran penelitian atau ada temanku yang mengajak ikut bimbingan? Mungkin aku terlalu serius menjalani kehidupan, atau bahkan terlalu Acuh hingga aku belum mengerti arti kehidupan di usia ku yang sudah kepala dua ini. Ini isi tulisan dengan judul di atas mungkin terlalu melebar dan tak ada poinnya. Tapi aku bisanya menulis ya seperti ini, apa yang terlintas dalam benakku, langsung aku tuangkan tanpa memikirkan pola, susunan dan keindahannya. Tak mempedulikan hasilnya jelek atau pun tak berguna. Berkarya dengan yang ku bisa. Tidak perlu menulis sampai pusing-pusing memikirkan sesuatu, yang akhirnya tulisan itu pun nggak jadi, dan percuma juga kalau sudah capek di otak, tapi tulisannya nggak jadi. Begitulah bagiku yang cukup aneh ini?
Kembali ke Laptop! saat ini di malam yang dingin berkabut rindu. Aku menunggu atau berharap, ada seseorang atau pun Delivery or go-jek dan sejenisnya yang mengetok pintu dan menawarkan Cemilan atau Makanan dan sejenisnya untuk aku nikmati sambil melihat hujan. Makanan yang sedikit panas atau sedikit pedas yang menemaniku sepanjang malam. Sampai pagi menjelang, hingga aku terbangun dari tidurku, dengan tersenyum bahagia seperti mimpi kemarin. Khayalan ku semakin kemana-mana. Ahh, Sudahlah -_-
Rasa capek seharian dikost-an, berjibaku dengan hujan yang tak kunjung selesai. Ingin rasanya menikmati malam, merasakan hujan di sebuah hutan, tepatnya di suatu Villa kawasan pegunungan yang dingin, asri nyaman. Tidak seperti disini, di tengah-tengah kota. Hujan, melewati senja, hingga malam pun tiba, rindu ini semaki pekat entah kepada siapa? Menjadi satu, melebur bersama sepi, malam dan hujan.
Selamat Malam, Hujan di bulan September!

