Ketika lonceng dinding ditembok yang telah tua dan penuh debu memukul belasan kali baru aku tersadar dan terbangun mengangkat kepala, mencoba meraih dan menarik handphone diatas meja belajar. Entah bangun dari sisa-sisa tidur semalam atau bangun dari lamunan panjang ku pagi ini, aku telah lupa.
Aku mencoba menajamkan telinga, rumah masih sepi, para penghuni sepertinya pada belum kembali pulang kerumah. Aku merasa kepalaku agak pusing. Ada setumpuk pekerjaan rumah hari ini untuk diselesaikan, dan di lemari penyimpanan makanan telah habis, dilemari pendingin atau frizeer pun persediaan telah menipis, aku merogoh dompet ku dan mencoba menghitung nominal yang ada, aku rasa cukup tanpa harus ke atm lagi.
Aku sedikit bingung, harus memulainya dari mana. Sementara, kepala bagian belakangku masih sedikit sakit bekas benturan saat aku terpeleset pada malam kemarin. Bahkan sikutku dan sebagian tubuku masih keliatan memar lebam, hidungku masih terasa nyeri dan bengkak, masih ada jejaknya, hanya saja darah telah berhenti mengalir afek obat merah yang aku berikan semalam dan obat oles yang juga rutin aku oleskan.
Wahh,, pagi ini aku melamun lagi sampai lupa yang membunyikan lonceng kecil di depan pintu rumahku kira-kira 30 menit yang lalui, siapa? Tak ada suara dan tak ada orangnya saat aku mencoba mengintip dari jendela, apa aku terlambat mengecek nya.
Sudahlah. Yang jelas itu bukan penghuni rumah ini, karena penghuni rumah selalu membawa kunci cadangan masing-masing. Tamu? Entah siapa yang repot-repot bertamu pagi-pagi sekali ke rumahku, yang jelas sekali itu bukan temanku atau mau menemui aku, apa teman papaku? apa ada sesuatu yang urgent, hanya pertanyaan konyol yang aku kira tak begitu penting untuk dibahas, toh orangnya sudah lenyap dan entah siapa. ______Cerita pagi ini.
Padang, 20 Februari 2018 (06.24 WIB)
who is? Who’re you?
@tsystories

