#0020tsy | Without Space

Aku tidak lagi punya ruang untuk rasa sakit, rasa bersalah, dan kerinduan dalam hatiku. Seberapa banyak lagi sekarang? Seberapa sakit yang harus ku dapatkan?

Hari ketika semua mimpiku terwujud, dan dia sekarang menjadi milikku, namun aku ditampar oleh kabar mengejutkan ini.

Apa ini? Apakah aku pantas mendapatkan tantangan lain? Apakah aku ditakdirkan selalu untuk gagal dalam hal kebahagiaan?

Seberapa banyak rasa sakit yang harus aku derita, jika dia meninggalkan ku sekarang, atau sebaliknya. Jika kami berpisah nantinya? Dan bagaimana jika aku diabaikan lagi? Dan bagaimana jika dia meninggalkanku tidak hanya untuk satu bulan, satu tahun, dan seterusnya? Bisakah aku terbiasa untuk sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu sepertinya tidak memiliki jawaban untuk saat ini.

Mampukah aku berpura-pura ceria dalam kesedihan dan kegelisaan ini? Aku akan mencoba pura-pura tertawa. Berpura-pura bahagia. Berpura-pura fokus dalam belajar. Dan berpura-pura sedang tidak memikirkan sesuatu. “Dibalik menyibukan dir ada sesuatu yang sedang berusaha dilupakan“.

Tapi pada akhirnya, aku tidak akan bisa lari dari kenyataan, jika aku memang sedang merasakan kesedihan yang mendalam. aku benar-benar sedang sangat sedih sekarang. sampai satu bulan perkuliahan di awal semester baru ini, aku mulai sibuk oleh kegiatan kampus.

Sial! semester kedua di tahun akhir ini ternyata lebih sulit dari yang ku bayangkan, walaupun perkuliahan dalam ruangan sudah tidak ada lagi, tapi yang lainnya memberikan tekanan yang luar biasa, cukup membuat ku stres.

Aku harus menyelesaikan setiap inci dan tahap dari penelitian ku di Laboratorium sana dan sini, harus menunggu hasil sampel yang aku kirim beberapa waktu yang lalu, sembari terus menghadapi dosen pembimbing untuk konsultasi, membaca beberapa referensi dan jurnal terkait objek penelitian, dan hal-hal yang penuh tekanan lainnya. tapi, aku sangat berterimakasih dengan berbagai kesibukan itu, sedikit demi sedikit aku mulai melupakan tentang dia.

Suasananya masih saja terasa sama bagiku, tetapi yang berbeda hanya satu, dia sudah tidak lagi ada untuk ku disini sekarang, sudah tidak perlu lagi aku khawatirkan saat mengecek Handphone.Bbahkan bayanganya saja sudah tidak bisa lagi dilihat olehku dimana-mana, dikontak chatting-anku.

Aku tidak bisa menahannya lagi…
Selamat! Aku sendirian sekarang.

Aku mencoba membiarkan diriku melepaskan semua kesedihanku. aku mulai menangis dalam kesendirian dan tidak malu untuk meluapkan rasa sedih itu. Beberapa detik berlalu, akhirnya aku menghentikan tangisan ku. karena aku mendengar ada yang mengetuk pintu kamarku, ternyata dia temanku datang membawa ice cream kesukaanku.

Ternyata temanku menyadari sikap dingin dan cuek ku akhir-akhir ini, pasti dia tau aku lagi banyak pikiran dan penuh tekaan juga. Dia sampai datang kesini ke kamarku, ingin memastikan apa yang dia lihat dan perhatikan adalah sesuatu yang benar atau salah.

Dia bertanya : “Sebentar lagi hari ulang tahunmu, kamu mau hadiah apa?”

Aku benar-benar melupakan tentang hal itu, karena pikiranku sibuk memikirkan hal lain. Dia dan Tugas Akhirku.

Biarkan aku berfikir sejenak. Sial! Bagaimana bisa dia mempengaruhi ku sebesar ini? Dia tidak peduli lagi padaku, tidak ingin ber-kabar denganku, membiarkan aku meunggunya, membiarkan aku khawatir kepadanya, membiarkan aku mengenang masa lalu akhir-akhir ini. Ahh, bagaiamana kau melakukan semua ini? Bagaimana bisa? Dia benar-benar meninggalkanku.

Aku ingin mengatakan jika ini bukan akhir dari ceritaku. Cerita ini belum benar-benar lengkap dan belum selesai. Aktor dari cerita ini harus disembuhkan, yaitu Aku. Cinta itu tentang perasaan bukan dengan pikiran. setelah ini aku tau aku bisa bahagia.

Selamat, Aku Sendirian Sekarang!
Padang, 24 Februari 2018 (18:15 WIB)
@tsystories

Diterbitkan oleh Terry Selvy

I Tell The Truth Through My Story

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai