Dia mengambil barang
bawaan dari tanganku. Dengan menampilkan seutas senyum penuh percaya
diri, menjelaskan kepadaku secara rinci.
“Main Basket 1 kali seminggu, latihan Boxing 2-3 kali seminggu, kadang latihan Muay Thai sama nge-gym juga, kalo sempat.” Jawabnya enteng.
“Nggak ganggu kerjaan sama jadwal ngampus, apa……”, celetuk ku tertahan. Kemudian aku berpikir sejenak.
“Mr.so’sibuk?”, lanjutku bertanya dengan sedikit menambahkan embel-embel untuk mengejeknya.
Sebutan yang sengaja aku bikin lebay biar kedengaran bercanda, guna menyindir kebiasaan dia selama ini. Tetapi entah kenapa. Tetiba aku sedikit merasa kasihan. Lho, kok aku malah merasa kasihan? Tag. Aku langsung ingat betapa merepotkannya aku selama ini. Ckck.
Karena yang aku tau selama ini, dia adalah orang yang cukup sibuk. Entah mengapa, akhir-akhir ini dia selalu ada untukku.
Hal ini bermula karena aku. Semenjak aku menceritakan perihal kesehatan ku tanpa ditutup-tutupi kepadanya. Ah, apa aku tampak begitu menyedihkan dan lemah, sehingga dia merasa kasihan?
Dia menggeleng.
“Sore atau malam kok” ujarnya sambil nyengir.
Aku tersenyum miring mengejek.
“bener-bener ya kamu.” sebagai tanda akhir dari perdebatan kami. Mau tidak mau apapun yang dia katakan, aku akan tetap memilih percaya.
Dia tertawa. Karena merasa menang. Dia tau betul bagaimana makna dari kalimat terakhir ku. Kemudian kami pun berjalan menuju parkiran.
“Oh ya, nanti sore mau nemanin aku, nggak?”
“Kemana?” tanyaku penasaran.
Dia menoleh sambil menatap jahil ke arahku “Ada deh…”
Aku menautkan kedua alisku yang terangkat. “Lapangan basket? Apa tempat latihan? Apa tempat gym?” tanyaku asal menduga.
Dia menggeleng lalu sedikit merunduk membuka bagasi sembari memasukan barang bawaan ku yang sedari tadi sudah berpindah ke tangannya. Tentu saja. Dia yang membawakan untukku.
“Nope. Tapi kalau masih ada waktu, abis dari sana mau ke salah satu tempat tadi juga boleh”
“Oke, Oke. Up to you”, aku mengangguk sebagai tanda menurut.
“Berarti, ntar sore nggak latihan dong?” cela ku.
Dia nyengir lagi, sembari menutup bagasi dan berjalan mendahului ku.
“Aku ‘kan belum memasuki jadwal TC, bisa izin kapan aja” jelasnya final. Tentu saja belum TC, kalau udah memasuki TC mana mungkin dia masih ada waktu kayak gini denganku -_-
Aku tertawa, lalu bergegas menyusul dia ke depan. Mendapati dia yang sudah membukan pintu mobil. Dengan segera aku masuk, “Thank you”
Next Chapter… #25
by @terryselvy

