Orang-orang bukanya akhirnya harus pergi, ia kan? Kita membiarkannya pergi dengan mudah hanya karena alasan sepele atau karena keluarga? Aku selalu berfikir, kau sengat dekat dengan ku seperti tidak ada jarak diantara kita. Layaknya kita bisa mendengarkan detak jantung satu sama lain. Layaknya kita bisa merasakan napas satu sama lain juga. Tapi sekarang, meski pun kau kembali masih bersama ku. Tapi aku tidak bisa mendapatkan mu. Aku selalu berfikir, dua orang hanya perlu bersama. Lalu mereka menjadi pasangan yang damai dan konsisten, dan selamanya. Tapi, kenapa kita tidak bisa seperti itu? Aku mencintaimu, tapi aku dipaksa harus meninggalkan mu. Aku tidak punya pilihan, aku tidak punya cara untuk memiliki cinta pada jalan kita yang berbeda, pada keyakinan (agam*) kita yang berbeda. Karena itu sangat egois, aku tidak melakukannya. Karena kita tidak bisa bersama, kau menyuruh ku untuk menjaga kesehatan dan mencari seorang lelaki yang lebih baik darimu, kau juga menyuruh ku untuk mandiri, tidak manja dan selalu hati-hati terhadap orang asing, dan berbahagia. Konyol sekali jika tanpa kau disini. Aku hanya bilang ‘okay, aku tidak akan mencari siapa pun disini’. Kau bertanya ‘kenapa?’ aku tidak menjawab, hanya tersenyum. Kenapa kita tidak bisa seperti mereka? Mari kita menatap satu sama lainnya, dan pergi secara diam-diam.
Mari kita menatap satu sama lainnya,
dan pergi secara diam-diam1
Padang, 11 Maret 2018 (04.12 wib)
@tsystories

