Di tengah hangatnya malam dan jalan yang panjang ini. Di sebuah tempat penjual susu murni yang telah di pasteurisasi dan ditambah aneka varian rasa, aku duduk menunggu sendirian di pojok gerai Tong Susu, di pinggir jalan yang lagi ramai. Setelahnya, aku berjalan perlahan, suasananya sangat hangat di tengah dinginnya malam. Aku bisa merasakan semilir angin yang tertiup lembut, dan suara-suara serangga yang terdengar lucu saling bersautan dengan suara kodok. Hingga sekarang pun, menunggu adalah hal yang biasa bagiku. Semakin malam saat berjalan sendirian, aku kan teringat akan masa-masa yang telah berlalu itu, kembali [pernah aku ceritakan dahulu kala]. Jika dipikir-pikir lagi setelahnya, yaitu saat ini, kami benar-benar akrab kala itu saling menjaga dan memberi semangat tanpa henti. Tapi, kala itu kami berada di usia yang masih naif dan sentimental, masih belum mengerti cara membina hubungan pertemanan yang baik. Jadi kami mudah merasa cemas dan tidak sabar saat menghadapi masalah. Tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk melindungi dan mempertahankan persahabatan kami. Semuanya sudah dilakukan, termasuk memberikan segala masukan dan kata maaf untuk satu sama lainnya. Namun tetap teras dan yang kurang. Kami butuh sesuatu yang menjanjikan, sebuah komitmen. Apa ada komitmen dalam persahabatan? Yang walaupun abstrak, namun bisa memberikan rasa nyaman dan lega di hati kami. Walaupun aku sadar pada akhirnya, tidak ada hubungan pertemanan yang abadi.
@tsystories
Tong Susu: Menunggu

