PEDULI GIZI ANAK MENUJU GENERASI EMAS 2045 OLEH YAICI-‘AISYIYAH SUMBAR

Selamat Hari Kesehatan Nasional 2019 Indonesia!

Hello, Assalamu’alaikum…
How was your day? Pada sehat-sehat, kan? Sehat dong. Nah, dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) Indonesia yang ke-55 dengan mengusung tema “Generasi Sehat, Indonesia Unggul” pada 12 November 2019 kemarin, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengsosialisasikan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) kepada masyarakat Indonesia. Bertujuan untuk mengajak seluruh masyarakat agar memiliki budaya hidup sehat dan meninggalkan kebiasaan maupun perilaku yang kurang sehat.

Peringatan Hari Kesehatan Nasional kemarin dimeriahkan dengan berbagai kegiatan menarik tentang kesehatan, mulai dari tingkat pusat sampai ke daerah-daerah di seluruh Indonesia. Salah satu kegiatan yang sangat amat menjadi perhatian dan sorotan khusus adalah tentang edukasi gizi anak untuk mencapai kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan yang lebih sehat, produktif, mandiri, dan unggul. Berupa forum ilmiah dan talkshow. Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) bekerja sama dengan Organisasi Perempuan Persyarikatan Muhammadiyah (‘AISYIYAH) mengadakan acara pada Selasa, 5 November 2019 kemarin dengan mengangkatkan tema “Peduli Gizi Anak Menuju Generasi Emas 2045” di Aula Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sumatera Barat.

Aku @terryselvy di acara Peduli Gizi Anak Menuju Generasi Emas 2045
Shoot by: Abang @AlizarTanjung

YAICI bersama AISYIYAH mengangkat acara ini dengan mendatangkan langsung stakholders yang terkait di bidang kesehatan se-Sumatera Barat. Mulai dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat (Ibu dr. Hj. Merry Yuliesday) sekaligus juga mewakili Gubernur Provinsi Sumatera Barat (Bapak Prof. Dr. Irwan Prayitno, P.Si., M.Sc.), Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Sumatera Barat (Bapak Drs. Martin Suhendri M. Farm, Apt.), Wakil Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah (Ibu Dra. Noor Rochmah Pratiknya), dan Ketua Harian YAICI (Bapak Arif Hidayat, SE.MM.), serta beberapa Bapak/Ibu dari dinas kesehatan di daerah se-Provinsi Sumatera Barat, juga rekan-rekan mahasiswa Keperawatan dari Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan (STIKES) Asiyiyah, Ibu-ibu pengurus PP ‘Aisyiyah dan YAICI, dan peserta umum.

Pada kesempatan ini, aku bersama rekan-rekan Blogger Padang mendapat undangan spesial dari YAICI dan Aisyiyah untuk menghadiri, ikut andil memeriahkan acara, dan ikut berpartisipasi aktif berbagi informasi serta mengajak teman-teman beserta masyarakat Indonesia (Masyarakat Sumatera Barat terkhususnya) melalui media sosial seperti sharing via story dan postingan di Instagram, live tweets selama acara atau update thread via Twitter, dan memposting artikel rangkuman acara di Blog, dan lainnya, dengan harapan masyarakat kita lebih aware akan kesehatan. Sebagai Nutritionist, tentunya aku sangat senang bisa ambil bagian ikut berperan, banyak sedikitnya, sesuai kapasitasku untuk berbagi informasi seputar edukasi kesehatan seperti ini.

Hal ini juga sebagai pengingat kita akan pentingnya kesehatan. Pengingat kita akan cita-cita mulia untuk mensejahterakan bangsa Indonesia dimulai dari memperhatikan kesehatan masyarakat, peduli akan gizi anak sebagai bagian dasar yang tidak terpisahkan. Tentunya hal ini membutuhkan dukungan dan kerja sama semua komponen bangsa, masyarakat, organisasi kemasyarakatan, swasta, pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi dan praktisi harus ikut ambil bagian dan berperan serta dalam upaya pembangunan kesehatan, dengan lebih memprioritaskan promotif-preventif dan semakin menggalakkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) ini, tanpa mengabaikan kuratif-rehabilitatif, sebagai mana sesuai dengan tujuan HKN ke-55.

Berdasarkan pemaparan dan hasil studi lapangan yang di kemukakan oleh Ibu Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat pada acara kemarin, ternyata masih banyak masyarakat kita di daerah-daerah sana yang dalam kategori belum sepenuhnya memperhatikan aspek-aspek kesehatan, belum menerapkan pola hidup sehat, belum melek kecukupan gizi hingga terjadi malnutrisi yang akan menyebabkan tingginya angka stunting (pendek/kerdil), wasting (kurus), dan obesity (kelebihan berat badan). Serta kesalahan pola asuh anak dan berbagai aspek yang masih belum bisa dikatakan sehat lainnya, sehingga akan mempengaruhi kemajuan masa depan bangsa Indonesia.

YAICI memaparkan pada halaman www.yayasanabhipraya.or.id, berdasarkan data yang mereka dapat dari Dinas Kesehatan Sumatera Barat sepanjang tahun 2018 tercatat bahwa Sumatera Barat, merupakan salah satu Provinsi dengan prevalensi stunting tinggi, yaitu mencapai 30,8%. Terdapat 6.793 bayi usia di bawah dua tahun (baduta) bergizi buruk, 15.942 baduta bertubuh pendek (stunting), 6.685 bayi berbadan sangat kurus.  Tidak saja baduta, kondisi memprihatinkan juga terjadi pada anak di bawah lima tahun (balita). Sedikitnya, 28.898 anak terdata kurang gizi. Sebanyak 59.641 balita stunting, dan 19.667 orang berbadan sangat kurus. Jika ditotalkan, jumlah baduta dan balita mencapai 137.626 orang. Masing-masing, 35.691 orang kurang gizi. Lalu, 75.583 bayi mengidap stunting dan 26.352 bayi berbadan sangat kurus.

Aku cukup kaget setelah mengetahui data tersebut. Bagaimana bisa? Kok bisa? Masa iya, sih? Ini benaran data Sumatera Barat, kah? Seperti tidak percaya. Karena yang aku kira masyarat kita sudah sangat aware mengenai kesehatan. Ternyata aku keliru, yang aku lihat hanya di wilayah seputar kota Padang saja, belum menyeluruh hingga ke daerah-daerah sampai pelosok negeri ini. Tidak hanya masalah pendidikan ternyata yang belum merata, bahkan hal paling basic dari kebutuhan hidup manusia seperti kesehatanpun demikian.

Berdasarkan apa yang dipaparkan di acara Talkshow atau seminar kesehatan pada Roadshow ke-6 yang diangkatkan YAICI kemarin, dapat aku tangkap bahwa semua masalah tentang kesehatan tersebut terjadi di masyarakat disebabkan oleh banyak faktor. Tidak hanya karena kurang atau rendahnya pengetahuan, juga karena faktor ekonomi. Ibu Kepala Dinas Kesehatan kemarin menjelaskan bahwa setiap beliau kunjungan ke daerah-daerah dan mendapati kasus seperti stunting, malnutrisi, dan masalah kesehatan lainnya, yang pertama beliau cari tahu pasti latar belakang mereka. Bagaimana tingkat ekonomi mereka, tingkat pengetahuan mereka, dan hal-hal basic mereka seputar kesehatan di lingkungan masyarakat tersebut. Beliau mengatakan bahwa, setiap ada kasus demikian, biasanya tingkat ekonomi masyarakat tersebut masih rendah, juga pengetahuan seputar kesehatan yang masih belum diperhatikan dengan serius. Maka kata beliau ini PR kita semua untuk memperbaiki, mensosialisasikan dan mengedukasi agar masyarakat kita bisa lebih baik dibidang kesehatan, agar memajukan Indonesia kedepannya. Untuk masa emas generasi Indonesia 2045 mendatang, itu harus kita persiapkan dari sekarang, dari masa kehamilan, balita, hingga anak remaja sampai dewasa.

Tidak hanya membahas masalah gizi dan kesehatan secara garis besar, pada acara kemarin juga membahas yang lebih spesifik seperti membahas tentang SKM dan peruntukannya yang tepat, membahas tentang Pelabelan Produk makanan dan Bahaya Rokok bagi kesehatan. Ada yang manarik bagi saya, saat Ibu dr. Hj. Merry Yuliesday menegaskan dengan keras agar kami sebagai generasi muda untuk memperhatikan calon pasangan kami kelak. mereka haruslah orang-orang yang juga aware tentang kesehatan. Beliau meminta agar kami bisa berjanji untuk tidak merokok, dan /atau tidak memilih pasangan yang perokok juga tentunya. Belia juga sempat bertanya, siapa diantara kami yang masih merekok, dan meminta untuk segera menghentikan kebiasaan ini.

“Saya Tidak Akan Berpacaran/Menikah dengan Orang Perokok”

Begitulah kira-kira pesan beliau kepada kami. Alhamdulillah, aku tidak merokok dan semoga pasanganku kelak juga demikian. Janji ya!

Kalau pembahasan tentang SKM, ternyata masih banyak masyarakat kita yang menganggap Susu Kental Manis (SKM nama dulunya) yang sekarang sudah ganti disebut dengan Kental Manis saja ini sebagai Susu. Bahkan dipakai sebagai pengganti susu. Yang paling bikin kaget diberikan pada bayi sebelum usia 12 bulan layaknya ASI, bahkan sebagai sumber gizi utama untuk si kecil 😢 Diketahui kurangnya pemahaman masyarakat tentang penggunaan SKM yang tepat ini sudah berlangsung puluhan tahun. Sehingga sekarang Dinas Kesehatan bersama tenaga kesehatan Provinsi Sumatera Barat lagi gencar-gencarnya melakukan pelatihan dan edukasi tentang ini. Mengacu pada keseriusan mereka di bidang pembangunan kesehatan, sehingga Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun lalu akhirnya mengeluarkan Perka No. 31 Tahun 2018 tentang Label dan Iklan pada Produk Susu Kental.

#PanganSehat
#AwasiIklanSKM
#KentalManisTopping
#BijakPakaiSusuKentalManis
#KentalManisBukanMinuman
#larangpromosiminumanstunggalSKM

Gambar: KOMPAS.com

Trending di Twitter, Apa Bahaya Susu Kental Manis? (www.KOMPAS.com) Tagar #BijakPakaiSusuKentalManis masuk dalam deretan populer media sosial Twitter pada Selasa (5/11/2019)

Jangan khawatir, SKM masih bisa atau layak kita konsumsi, kok. Tapi sebagai mana fungsi seharusnya yaitu sebagai topping atau seagai pengganti gula pada olahan makanan, dessert, dan lain sejenisnya. Sekali lagi ingat, sebagai topping bukan sebagai susu. Lalu, sebagai salah satu sumber protein hewani dan sumber kalsium yang baik dan di sukai anak-anak, jenis-jenis susu apa saja yang bisa kita berikan? Ada air susu ibu (ASI), ini adalah sebaik-baiknya susu untuk bayi, ASI ini spesial tidak tergantikan karena mengandung kolostrum yang dibutuhkan bayi untuk antibodi. Ada Susu sapi segar. Ada susu UHT dan susu bubuk yang bisa kita jumpai dengan mudah dan kita beli. Ada susu kedelai atau susu dari ekstrak kacang-kacangan lainnya, diperuntukan bagi yang lactose intoletance. Juga ada susu fermentasi baik untuk kita seperti yakult, yogurt, dadih, dan sejenisnya. So, jangan memilih SKM lagi sebagai susu, karena sudah tau fakta seputarnya. Hehe.

Peruntukan SKM yang tepat adalah sebagai Topping, Creamer, pengganti gula (Pemanis), dan sejenisnya. Ingan, bukan pengganti susu.
Shoot by: Harian YAICI pada acara kemarin.

Baiklah, cukup sekian dulu #ceritaTERRY seputar acara kemarin, dan Selamat Hari Kesehatan Nasional ke-55 Indonesia! Semoga cita-cita Indonesia pada pembangunan di bidang kesehatan di tahun 2019 ini bisa terwujud dan menghasilkan generasi emas di tahun 2045 nantinya. Semoga kemajuan nyata Indonesia bisa kita rasakan bersama. Amin.

View this post on Instagram

SELAMAT HARI KESEHATAN NASIONAL 2019 _ Hello, Masyarakat SUMBAR! Dalam rangka menyambut Hari Kesehatan Nasional ke-55 dengan mengusung tema “Generasi Sehat, Indonesia Unggul” pada 12 November 2019 mendatang, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mensosialisasikan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) kepada masyarakat Indonesia. Sejalan dengan Edukasi Gizi YAICI dan PP Aisyiyah yang mengadakan acara pada Selasa, 5 November 2019 kemarin dengan mengangkatkan tema "Peduli Gizi Anak Menuju Generasi Emas 2045" di Aula Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumbar. Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bekerja sama dengan Organisasi Perempuan Persyarikatan Muhammadiyah ('AISYIYAH) mengangkat acara ini dengan mendatangkan langsung stakholder yang terkait di bidang kesehatan di Sumbar. Mulai dari Kepala Dinas Kesehatan Prov. Sumbar (Ibu dr. Hj. Merry Yuliesday) sekaligus juga mewakili Gubernur Sumbar (Bapak Prof. Dr. Irwan Prayitno, P.Si., M.Sc.), Kepala Balai BPOM Prov. Sumatera Barat (Bapak Drs. Martin Suhendri M. Farm, Apt.), Wakil Majelis Kesehatan PP Aisyiyah (Ibu Dra. Noor Rochmah Pratiknya), dan Ketua Harian YAICI (Bapak Arif Hidayat, SE.MM.), serta beberapa ibu-ibu dari dinas kesehatan di daerah se-Provinsi Sumbar, juga teman-teman mahasiswa Akademik Keperawatan. Dalam hal ini, aku bersama rekan-rekan Blogger Padang mendapat undangan special dari YAICI dan Aisyiyah untuk ikut berpartisipasi aktif berbagi dan mengajak teman-teman melalui media sosial (Instagram, Twitter, Blog, etc.) dan seluruh masyarakat Sumbar untuk aware akan kesehatan. Karena berdasarkan pemaparan dan hasil studi lapangan yang di kemukakan oleh Ibu Kepala DinKes Sumbar kemarin, ternyata masih banyak masyarakat kita yang dalam kategori belum sepenuhnya memperhatikan aspek-aspek kesehatan, belum menerapkan pola hidup sehat, melek kecukupan gizi, tingginya angka stunting, dln. Apalagi contoh simple saja, masih banyak masyarakat kita menganggap SKM sebagai Susu, pengganti susu, dan sumber gizi untuk sikecil 😢 #PanganSehat #AwasiIklanSKM #KentalManisTopping #BijakPakaiSusuKentalManis #KentalManisBukanMinuman #larangpromosiminumanstunggalSKM _ SELENGKAPNYA 👇 www.terryselvy.wordpress.com _ Terry

A post shared by TERRY | #ceritaTERRY (@terryselvy) on

Diterbitkan oleh Terry Selvy

I Tell The Truth Through My Story

12 tanggapan untuk “PEDULI GIZI ANAK MENUJU GENERASI EMAS 2045 OLEH YAICI-‘AISYIYAH SUMBAR

    1. Hello, Bang Aul 🤗
      Benar, bang. Harus selalu di ingat dan diingatkan. SKM BUKAN SUSU! Jangan dikasih ke anak-anak lagi. SKM itu TOPPING! Semoga masyarakat kita kembali ke ASI, Susu Sapi Segar, maupun UHT atau Bubuk. Dan ini usaha anak Peternakan. Wkkwkwk.

      Salam,
      @terryselvy

      Suka

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai