BAGIAN 14: Have You Forgotten

Nah, karena keakraban itu, beliau pun akrab sama aku, buku-buku kakakku diturunkan ke belau, buku-buku belau diturunkan ke aku. Karena kami beda-beda tingkatan. Kakakku setingkat di atas beliau, dan aku setingkat di bawah beliau. Saat mengingat banyak hal di masa lalu begini, tanpa sadar aku jadi tersenyum cukup lama kepada beliau saat pertemuan kemarin. “Heh!”,Lanjutkan membaca “BAGIAN 14: Have You Forgotten”

Bagian 13: Dia, Seniorku.

Sesampai di lantai 2, aku menjelajahi blok per blok, menyapukan pandangan mata sekilas judul-judul buku yang aku lewati. Lantai dua memang berisikan buku-buku penting dan untuk kepentingannya sendiri. “Hm, belum ada”, guman ku. Dari beberapa bulan yang lalu, setiap mengunjungi toko buku aku selalu menyempatkan diri untuk mencari sebuah buku. ‘Somewhere Only We Know’ karyaLanjutkan membaca “Bagian 13: Dia, Seniorku.”

Bagian 12: Stuck With Me

Aku bergegas turun meninggalkan kenyamanan duduk di dalam mobil itu. Sembari mengayunakan kaki kiri mundur selangkah demi selangkah menjauh. Kemudian tersenyum sumringah, sambil melambaikan tangan ke arah pengemudi yang mana sudah berbaik hati mengantarkan ku disela-sela kesibukannya. “Daahh, H-a-t-i-h-a-t-i!“ Dia memperingati ku dengan nada penuh penekanan. “Selamat bersenang-senang! Aku duluan”, imbuhnya berteriak kemudian tersenyum sambilLanjutkan membaca “Bagian 12: Stuck With Me”

Bagian 11: Siap! Bosque.

Aku sangat hafal jadwal latihan dia dari jam 4 sore hingga menjelang magrib, baru bubar (karena aku juga pernah menjadi salah satu atlet di sana). Tidak mungkin aku minta dijemput atau justru harus menunggu selama itu, yang ada aku kebosanan jika harus menelusuri setiap sudut Gramedia sekitar 2 jam lebih. Tidak mungkin juga aku menyusulLanjutkan membaca “Bagian 11: Siap! Bosque.”

Bagian 10: Forgotten

Sesampai di rumah, aku memilih turun duluan meninggalkannya biar membawa tas kami. Aku mendahuluinya untuk masuk duluan karena di luar terasa sangat panas. Menghempaskan tubuhku duduk di sofa ruangan tamu, sambil terus memainkan games di ponselku. Sesekali aku menggeram kesal saat kalah. Tampa sadar dia sudah berdiri di depanku. Menatapku datar, sedetik kemudian dia melemparkanLanjutkan membaca “Bagian 10: Forgotten”

Bagian 9: Up To You!

2 cangkir latte + 1 potong cake “Ehm… kita langsung pulang, atau…” (Aku mengalihkan pandangan dari ponsel, menatap tepat ke wajahnya) Aku sengaja menggantung pertanyaanku. Menunggu respon dan tanggapan darinya. Sekaligus berusaha mengusir keheningan di antara kami. Sudah 1 jam semenjak aku duduk saat kembali dari toilet. Kami masih belum banyak berbicara. Dia masih betahLanjutkan membaca “Bagian 9: Up To You!”

Bagian 8: Don’t Ignore Me

“Lho, kopinya udah dateng kok nggak diminum?” Sapaku, saat kembali dari toilet. Namun, tidak ada jawaban yang aku dapatkan. Aku menghampiri meja yang tadi aku tinggalkan bersama seseorang yang masih setia dengan kedua tangan terangkat menopang dagu. Dia seperti melamun, menatap keluar jendela besar nan tinggi dengan lapisan kaca transparan sebagai penambah keindahan interior cafe.Lanjutkan membaca “Bagian 8: Don’t Ignore Me”

Bagian 7: Tell Me Anything

“Kamu, pande masak?” Ku jawab, “Enggak” “Lho, tapi masak bisa’kan?” Kali ini ku jawab “Bisa” “Lantas…” 🤷‍♂️ Ku diam. Kemudian suasana hening. “Kenapa mulai makan sayuran, lagi?” “Ya, itu karena nggak mampu beli yang lain”. (sambil tertawa cengengesan). Melihat dia tak ikut tertawa bahkan tidak berekspresi apa-apa, terpaksa kembali ku timpali dengan penjelasan. “Eh, nggakLanjutkan membaca “Bagian 7: Tell Me Anything”

Bagian 6: Creating Destiny

Setelah bermain, saling mengabadikan momen dengan camera masing-masing, sesekali kami selfie diselingi obrolan tanpa henti, dari ringan, basa-basi, serius, sampai ngawur ngidul, saling curhat apa saja satu sama lain, sesekali bercanda dan dibarengi gelak tawa. Setelah dirasa cukup, kami akhirnya berhenti dan menepi ke pinggir pantai. Kaki telanjang tanpa alas, dan celana kami sampai lututLanjutkan membaca “Bagian 6: Creating Destiny”

Bagian 5: Dunia Mu

“Kamu sampai kapan mau melamun di situ? Buruan turun!”, dibarengi delikan yang sulit diartikan. “Ah, iya. Bentar”, sedikit kaget dan gelagapan aku buru-buru membuka seat beltku. Saking sibuknya aku melamun sedari awal keberangkatan sampai mobil telah berhenti pun, aku tidak sadar. Aku masih speechless dengan semua yang dia lakukan seenak jidatnya. Mengganggu ku di pagiLanjutkan membaca “Bagian 5: Dunia Mu”

Bagian 4: Between you & I

“Gimana? Udah siap”, sambil tersenyum ke arahku. Sapanya saat aku muncul dengan style kasual di balik pagar rumahku. “Eh, iya. Udah nih. Udah lama nunggu?”. Sembari membuka dan menutup kembali pagar. Pertanyaan basa-basi ku kepadanya. Padahal aku tau, sedari 15 menit yang lalu mobil itu setia diam manis di sana. “Buruan masuk!”. Arah pandangannya beralihLanjutkan membaca “Bagian 4: Between you & I”

Bagian 3: Stranger

“Hallo, ada apa?” “Ter, kamu masih tidur di jam segini?”, dibarengi ledekan suara tawa. Dari suara dan gaya bicaranya, aku berfikir sejenak. Terdengar tidak asing, akan tetapi bukan seperti dua orang yang aku duga sebelumnya. Ponsel ku bahkan tidak tertempel dengan benar di telingaku. Aku tidak bisa dengan jelas mendengar suara si penelpon. Karena malesLanjutkan membaca “Bagian 3: Stranger”

Bagian 2: Hello, What’s Up?

Akhir pekan ini aku tidak punya acara penting maupun tugas yang menumpuk. Jadi aku bisa bermalas-malasan. Tidur sepanjang hari. Hanya saat merasa lapar, baru aku beranjak bangun, dan berusaha menemukan sesuatu yang bisa mengisi perutku. Setelahnya aku akan kembali melanjutkan tidur panjangku. Hampir setiap akhir pekan yang kosong, itulah kebiasaan buruk yang aku lakukan. BeberapaLanjutkan membaca “Bagian 2: Hello, What’s Up?”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai