#0002tsy | Date “Someone”

Date someone who meets you half way. Date someone who brings you a glass a water when they get themselves one. Date someone who makes sure you don’t spend money on ridiculous things. Date someone your ex hates and your mom loves. Date someone who’d rather spend a Friday night watching movies, than out with 50 people they barely even talk to. Don’t date someone who makes you leave oceans of tears.” At the end of the day it’s the little things.

Love,
@tsystory

Bersahabat & Curhat dengan Lawan Jenis

Dia, Lelaki sahabatmu?

Berawal dari curhat, basa-basi chit chat, dan saling mengingatkan akan beberapa hal. Dia orang yang mempunyai kompetensi mendengar dan memberikan solusi yang baik serta menawarkan perhatian lebih saat kita gusar, bosan atau terjerat banyak masalah dan membutuhkan teman curhat, apakah itu berasal dari lawan jenis? Siapa sih yang enggak suka bicara pada orang yang pas dengan pola pikir kita, apalagi dengan selera humor yang proporsional, pengetahuan yang tinggi, kedewasaan yang matang, dan solusi yang tepat sasaran, serta memiliki seni bicara dan mendengar yang baik pada kita.

Pada suatu tahap berikutnya kita akan merasa lega dan terhibur setelah curhat kepada dia si-lawan jenis atau teman curhat karena dapat solusi atau saran yang tepat, rasa nyambung, nyaman dan dapat perhatian yang kita suka, maka pada tahap ini sudah memasuki masa kritis. Kadang kita menyepelekan hal tersebut, sampai suatu saat kita sudah terlibat terlalu jauh, terlalu sering curhat dan dekat, kita baru menyadari ada yang salah dengan hal ini karena dia saat ini bukan siapa-siapa kita.

Seperti saya baca pada suatu buku Pak Indra dengan beberapa Kutipan buku sebagai berikut : “Saat curhat kepada lawan jenis, anda akan mendapatkan simpati. Anda akan merasa dimengerti. Selanjutnya anda merasa nyaman dan menjadi semakin dekat. Apa pun bisa terjadi selanjutnya”. Tulisan kutipan bab pada buku ini lanjut beliau berkata : “Anda mungkin punya argumentasi tersendiri tentang masalah ini. Namun, saran saya lebih baik anda hindari. Godaan yang datang bisa sangat halus bentuknya dan memabukkan. Pelan tapi pasti anda akan merindukan curhat kepada dia. Tanpa sadar anda berdua masuk ke dalam sebuah situasi yang rumit, dimana anda sudah terlanjur ‘nyaman atau sayang’ dengannya, demikian juga sebaliknya. Akan lebih kusut lagi saat teman curhat anda ini sudah ada rasa.

Beliau menjelaskan juga bahwa : “Nasihat yang sama juga berlaku saat ada lawan jenis yang ingin curhat kepada anda tentang masalahnya. Sebisa mungkin hindari. Anda mungkin punya iman yang cukup kuat untuk menahan godaan. Namun, apakah anda bisa jamin iman dia cukup kuat? Anda bisa jamin dia tidak akan jatuh hati kepada anda? Apa lagi anda adalah orang yang baik“. Bayak kita dengar bahwa hubungan berakhir bahkan pasangan resmi bercerai karena hal tersebut.

Saya jadi teringat dengan nasihat-nasihat pada pengajian yang sering saya ikuti setiap minggunya beberapa tahun lalu, salah satu mentor saya menegaskan larangan bahwa “tidak boleh curhat kepada lawan jenis dalam bentuk apapun dan dalam perkara apapun“, beliau juga menjelaskan bahwa “tidak ada pertemanan/persahabatan antara kaki-laki dan perempuan“, karena laki-laki yang ngakunya 100% best friend pun gak akan nolak kalo dikasih ‘lebih’.

Menurut mereka, ” itu karena persahabatan laki-laki ke perempuan itu seperti sebuah game di mobile gadgets : walau dimainkan santai tanpa ada tujuan, semua pria pasti suka jika bisa masuk bonus stage atau meraih level kejutan“. Jadi, bisakah keduanya cuma bersahabat dan saling curhat saja tanpa perasaan tertarik dan sebagainya ?
Bagiku pribadi akan menjawab : Ada, tapi.. (langka). Wkwkwkk.. ^^

Salam Berpendapat,
@tsystories

#KitaYangTanpaRencana

Hallo, September!

Mengenang waktu demi waktu
Mengiringi pacu kelajuan di depan mata
Menghargai setiap yang ada
Meng-ikhlaskan semua yang hilang
Mencintai diri sendiri


Rindu pada Aku yang dulu
Rindu pada Aku yang Aneh
Rindu pada Kalian Jua
Apalah daya rindu tanpa kita


Iya kita yang tanpa Rencana
Kita yang tanpa Janjian
Mengukir keinginan menjadi nyata
Mengusir ketidak pastian menjadi ada
Mengalir bersama beriringan


Ini kita yang melangkah tanpa kata ‘Iya
Yang sepakat pergi tanpa diminta
Yang memilih sama tanpa dikira
Yang memilih paham tanpa dimengerti

Tidak perlu mengerti, jika tak mampu
Tidak perlu paham, jika tak sanggup
Tidak perlu mengucapkan, jika tidak menguasai
Tidak perlu tahu, jika bukan urusan

Tidak lagi berpura-pura
Karena bukan panggung sandiwara
Selamat Malam, masih di Septembe
r lalu!

2017, 9 September
@tsystrories

Aku (ada) Diantara Yang Terabaikan

Aku ada diantara yang terabaikan!

Aku lelah pada niat yang setengah,
aku menyerah pada ketidak pastian,
aku mundur dari kekecewaan pada waktu yang mengulur
dan aku menghilang ditengah dera penderitaan.

Aku mencoba menerka dari setiap hembusan napasku,
terpacu denyut nadi ini pada cerminan masa depan,
diantara keruh gelap gulitanya malam.

Aku akan tetap ada diantara yang terabaikan,
bersemayam dilorong-lorong sepi yang tak berpenghuni,
disudut-sudut ruang kepiluan.

Aku akan tetap ada diantara barisan yang tak terlihat,
ditepi jurang kebahagiaan,
diatap-atap kemiskinan.

Aku…. bukanlah mereka!

Aku ada diantara jeda,
aku ada tanpa kalimat,
aku ada tanpa koma
dan aku ada tanpa spasi,
serta aku ada tanpa titik,
bahkan aku ada diantara Enter yang tak kenal delete.

Hanya ” “ itu sangat menguji aku untuk ada.
Aku diantara yang terabaikan,
@tsystories

Dikala Bahagai Adalah Luka

Dikala bahagia adalah luka,
dikala senyuman adalah kecewa,
dikala diam adalah air mata,
apa artinya kita..?

Disaat jarum jam terus berputar,
disaat waktu terus berlalu,
disaat nafas terus memburu,
dialah jantung terus berdetak.

Jika menunggu itu membosankan,
setia itu melelahkan,
pergi itu pilihan,
hendak kemana kaki melangkah,
mata tertuju sukar berpaling,
tapi hati mendua.

Ketika semua berubah dan terabaikan,
ketika janji diingkari dan kepercayaan dihianati,
mereka bukanlah sejati…
Bahkan yang terlihat kuat pun harus ada yang menguatkan,
bahkan yang terlihat bersemangat pun harus terus disemangati,
bahkan yang dianggap paham pun harus terus dipahamkan.

Dia Saudara/i mu, amanah mu.
Minimal jaga dia dalam do’a

2017, 24 September
by: @tsystories

Menyendiri Dan Terabaikan

Hai, Rindu!
Masihkah kau Menyendiri dan Merasa Terabaikan,
seperti dulu?

Menyendiri dan merasa terabaikan itu tidak begitu buruk. Aku menikmatinya dengan enjoy, bahkan merasa terbebas dari belenggu. Bebas berekspresi dan menampakan diri tanpa takut ada yang peduli. Kita mampu mengatasi masalah dan berpura-pura bahagia pada mereka yang melirik dan bertatap mata. Tidak usah kawatir mereka tidak akan bertanya.

Sudah cukup bagiku, tidak perlu merasa jadi bagian dari mereka, aku adalah diriku, aku menikmati proses ku, aku bersyukur telah ada baik bersama atau sendiri. Disaat terabaikan dan ditinggal sendiri, bahkan mereka tidak peduli lagi, di sanalah aku sadar dan berhenti. Berhenti berharap pada kenyataan kosong, berhenti peduli pada tipuan kehidupan dan berhenti dari dunia mereka. Aku telah lelah, kecewa dan terluka hingga keluar sebagai kesatria berhati baja.

Aku mulai benci berada diantara mereka, orang-orang yang bahagia. Mereka berbicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa bahkan tanpa makna. Mereka tertawa terbahak-bahak dan menipu diri sendiri, menganggap hidup mereka baik-baik saja. Mereka berpesta tanpa peduli mereka siapa dan membunuh anak kecil dalam diri mereka.

Aku senang berada diantara orang-orang yang Patah Hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari, Mereka tahu pada diri mereka ada yang telah hilang bahkan dicuri. Mereka tahu, mengerti dan memahami aku, meski tidak secara utuh. Karena tidak akan ada yang mampu menjadi bagian dari diriku, tidak akan ada yang mampu mengerti dan memahami keutuhan “My_Story” dalam hidupku. Hanya aku dan Tuhanku maha tahu. ^^

2017, 24 September
by: @tsystories

Orang Yang (Ter)Asing

Dear : Untuk Orang yang (Ter)Asing

Kalian,, Kita Sama-sama (ter)Asing. Kekonyolan adalah mengecek sebuah kotak pesan berkali-kali padahal sudah tahu hanya kesia-siaan yang ada. Parahnya, saya melakukan hal itu berkali-kali, sampai diri saya berubah menjadi kekonyolan. Saya tidak tahu kenapa kalian ’menghindar’, tak memberi ruang bagi saya untuk sekadar berkata ‘sallam’, dan menanyakan kabar.

Barangkali kalian ’uzlah’, karena kalian telah menemukan hakikat. Ya, ’uzlah dari ’hectic life‘ dan para hipokrisi yang menambah kebisingan dengan ucapan dan tampang-tampang pencintraan penuh kepalsuan, fake. Kamu menjatuhkan diri pada ke-apaadaanmu; idealis, totalitas, misterius, genius, seperti apa yang kalian katakan dan saya rasakan. Namun, terkadang kalian muncul di permukaan dengan topeng, ber-kamuflase menjadi sosok jenaka, fake smile.

Hebat! dan orang-orang, bahkan awalnya saya, mengira kalian berasal dari lautan tenang dan damai. Perlahan, kejadian yang saya temui, setiap perkataan yang terlontar dari kalian mengerutkan kening saya karena sesak dengan konotasi, pemisalan dan misteri, kini dapat dimengerti walau tidak keseluruhan. Yang pasti kalian bukan berasal dari lautan biasa, kalian tumbuh kembang di perairan yang ombaknya gagah. Saya tidak tahu berapa kali kalian terhempas, tergulung, bahkan hampir tenggelam di sana. Tapi, itu membuat kalian bertahan dengan karakter ke-apaadaan kalian, saat kebanyakan orang terseret ke pusaran samudera dengan mudah dalam keadaan abu-abu.

Kalian adalah orang asing yang terasing, begitupun saya. Biarkan dunia beranggapan seperti itu. Mungkin dunia lah yang menjadi asing bagi kita. Saya mengamini bahwa kalian orang asing. Orang asing yang saya rindu kan. Bagaimana mungkin? Tapi begitulah. Merindu tak harus pada seseorang asing yang dikenal saja. Terlalu berlebihan? Demikianlah adanya, jika dijelaskan terlalu pelik. Sama pelik dengan sebuah perpisahan.

Kalian tau? sebelumnya saya beranggapan tak ada yang mesti dirisaukan dari perpisahan, karena ia amatlah mudah. Tak usah ditangisi, tak mesti mengadakan selebrasi. Sebab barangkali dunia ini memang diciptakan untuk sebuah perpisahan, seperti kata Sungging Raga: ”Hidup sejatinya mengenai perputaran perjumpaan dan perpisahan tanpa henti“ (dikutip dari karya Sharmay HA).

Dan bagi saya perpisahan itu hanya dalam drama atau cerita-cerita cinta picisan saja, atau hanya seberkas kenangan masa. Salah! Saya dijungkir-balikkan kenyataan. Tampaknya kenyataan tertawa terbahak-bahak melihat saya terpahit-pahit menelan sebuah kata yang namanya perpisahan. Padahal saya telah mempersiapkan mental jauh-jauh hari, manakala perpisahan itu datang. Nyatanya ia menghantam lebih cepat, tepat di ulu hati saat saya lengah, hingga saya menggelepar dengan ketidak berdayaan, mengenaskan.

Kalian bisa ajari saya bagaimana mengusir kenangan yang bergentayangan yang lebih menyeramkan dari para penunggu laut? Padahal kenangan itu hanya berwujud sekumpulan kata-kata, bukan fragmen-fragmen yang nyata. Tetapi, lebih menyeramkan lagi, serasa menjadi orang asing yang ter(asing) tersesat di planet antah-berantah. Kalian tahu? Apa jarak sebegitu hebat mengubah sesuatu yang dikenal (dekat) menjadi (ter)asing? Walau begitu, kalian tetap saya rindukan. Jangan bosan dan melipat kening, kalian akan menemukan kata ’asing‘ yang berserakan. Sebab kata (ter)asing berdengar dan menjadi headline di pikiran saya.

Kalian tahu, kalian yang memupuk sisi humor saya. Kini humor itu menumpul dan berkarat, mengusang dan mengasing saat kalian dan saya sama-sama (ter)asing, atau barangkali dari dulu kalian menganggap saya alien (makhluk asing) tersesat yang jatuh ke bumi dan ’berjumpa dengan kalian, dengan pesona keapaadaan(mu) ya kamu (diantara kalian), lalu saya berangan untuk ber-transformasi menjadi makhluk bumi seutuhnya, padahal itu suatu kemustahilan!

Ahh,, perpisahan benar-benar mencipta jarak bermiliar tahun cahaya dan membuat kita merasa (ter)asing lagi. Karena itu pula, tanggal yang berguguran di tubuh kalender begitu pelit. Waktu serupa Siput linglung, bagai terombang-ambing diruang hampa. Untuk melipat detik pun seperti menggulung tahun. Tampaknya kenyataan dan waktu berkomplot mengolok-olok saya. Biar saya lama terpahit-pahit dalam keterpisahan yang terjadi, biar saya mewujud kepahitan dan biar saya menjadi (ter)asing.

Ter(sadar) bahwa saya benar-benar makhluk asing yang tersesat. Kamu tahu? kalian tahu? Pulang teramat berat. Sebab, kini ke-pulangan saya memikul kenangan seberat massa galaxy yang mustahil akan saya pikul. Kendati begitu, adalah keharusan bagi saya untuk pulang pada ’galaksi’ di mana saya berasal, tampaknya saya terlalu lancang untuk tersesat. Barangkali adanya, saya tidak boleh tidak, harus dienyahkan.

Benar? Karena ketersesatan saya adalah kelancangan. Ahh, kalian. Padahal tiada daya dalam diri saya. Atas lajunya perasaan ini pun saya tak kuasa, bahkan sekadar menghapus denyaran kata (ter)asing yang menjumud di pikiran. “Dan begitulah wanita, mengandalkan perasaannya sendiri”, tapi wanita tidak se-egois itu kok ^^

September 2, 2016
Yang Merindukan kalian,
@tsystories

Rujukan:
[1] Sepenggal kata dikutip dari karya Sharmay HA
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaualatan Rakyat” Minggu edisi 15 Mei 2016

Sisa Hujan Kemarin

Sisa hujan kemarin, apa kabar?

Semua sudah berlalu dan tampak normal kembali, dibalik puing-puing yang telah melebur menjadi abu. Ada kalanya dimana Aku merindukan puing-puing indah itu, pada saat down dan bahagiaku, menyatu. Aku merasa takut jatuh dan kehilangan sebagian dari dalam jiwaku yang selama ini Aku pupuk tiada henti.

Apa arti sebuah kebahagiaan yang Aku capai dengan perjuagan keras diantara dendam dan rasa sakit, jika hanya diabaikan dan akhirnya berjuang sendiri, untuk apa? Aku merindukan mereka. Ya,, rasa rindu yang tak kan pernah tergantikan dan terobati pada rasa mustahil untuk mampu mewujudkannya.

Aku bukan siapa-siapa, Aku bukan bagian dari mereka, Aku hanya setitik debu yang berserakan dan terabaikan oleh keadaan, bahkan waktu pun enggan menyapa. Aku tetap diriku yang merindu dan tak mampu bangkit dari rasa sakit ini, dari rasa lelah ini dan dari rasa kecewa pada dendam yang menggebu.

Aku bukan siapa-siapa, dan akan tetap begitu hingga kelelahan dan keputus asaan menghampiri tiada ujung yang pasti. Aku selalu berdo’a dalam diamku, dalam sujudku dan dalam rasa laparku akan harapan ini. Aku telah lelah bersedih, Aku telah lelah menangis, Aku telah capek menanti dan Aku akan selalu begitu.

Meskipun harus menari-nari diatas ketidak berdayaan, diatas ketidak mengertian dan diatas perihnya lukaku yang telah koyak, semakin hancur. Namun, aku harus terus maju menghadang luka baru, mengoyak yang tersisa dan bermetamorfosa. Seandainya mampu, Aku akan terus menyembunyikan pekikkan ku degan luka ini dan tangisanku pada rasa sakit ini.

Aku sudah terbiasa dan akan terus maju dengan membentuk jutaan topeng baru, tak peduli seberapa lapis lagi yang harus aku pakai atau aku gunakan demi memberikan ekspresi baru, menutupi luka ini. Aku tidak gila. Aku bukan penipu. Aku hanya akan menciptakan kepribadian sendiri sesuai mauku, keinginan pada ekspektasiku dan kebutuhanku. Aku bersyukur mampu untuk itu, aku mampu untuk kuat dan terlihat begitu bahagia pada mereka. I’m normal… ^^

Wednesday, 19:28 WIB
2016, 02 March
by: @tsystories

Hujan Di Bulan September

Selamat Malam Hujan!
Selamat Malam September!

Tetesan hujan malam ini terasa merdu sekaligus sendu, dari Sore hari hampir malam tiba aku masih berbaring (read : mager). Menikmati denting irama hujan sambil mendengarkan lantunan lagu dari handphone-ku. Lagu yang melow sekaligus galau, ahh mungkin bagi orang lain aku dibilang cukup Aneh karena galau tanpa sebab. Tapi biarkan, hujan malam ini membuatku nyaman terbuai melodi rindu. Di tempat kost-ku, yang sepi karena hujan yang tak kunjung reda. Beberapa saat yang lalu setelah aku selesai mandi, aku bergegas membuka laptop dan entah aku ingin melakukan apa, aku hanya bengong, gundah di depan laptop tua. Belajar mengetik kata demi kata, lalu berusaha aku susun mejadi seikat kalimat tapi baru beberapa kata saja aku sudah males untuk meneruskannya. Hujan di luar semakin menjadi. Seakan air dari langit memanggil ku untuk bermain dengannya. Seandainya siang hari atau pun sore tadi, pasti aku sudah terjun dan bermain dengan air sampai aku menggigil karena kedinginan.

Mata ini tak kunjung atau pun tak merasakan kantuk. Pasti ini karena segelas kopi siang tadi. Kopi bagiku minuman unik dan tak pernah mampu aku pahami, entah pagi, siang, sore atau pun malam aku tak cukup menyukai-nya. Kata (Mereka) Kopi adalah candu, seperti agama adalah candu kata Marx. Hujan tak menandakan reda, sepi di luar semakin terasa. Playlist lagu di handpone-ku ku putar terus, sedikit untuk menepis rasa sepi ini. Karena teman-teman kost-an ku pada balik Pulang kampung di setiap akhir pekan. Oh ya ini weekend, bahkan aku lupa kalau ini Malam Minggu kata mereka para anak muda.

Semakin lama aku melihat hujan, perutku marah karena minta jatah. Aku baru ingat ternyata sedari siang aku belum makan. Terakhir aku makan di luar pas bakda dzuhur. Ah, sebagai anak kost perut lapar atau makan tidak teratur adalah hal yang wajar kata mereka, tapi bagiku tidak. Sudahlah. Menunggu hujan reda adalah suatu yang romantis jika hujannya hanya gerimis. Lama-lama aku bosan juga memandang laptop tanpa tujuan. Cemilan kali ini entah seberapa banyak sudah aku habiskan.

Akhirnya, yang aku tunggu tiba juga. Hujan reda pelan-pelan. Angin berhembus menembus pori-pori. Dingin terasa. Suara tukang nasi/mie goreng, tukang sate, tukang bakso dan batagor “tek tek tek tek”-pun terdengar. Namun, lebih aku masih termenung sendirian di sebuah kost-an yang aku tempati sejak 3 tahun terakhir. Hujan reda, mungkin di atas sana, bintang menampakkan diri mereka atau bersembunyi di balik awan yang hitam. Ah sudahlah, lagi-lagi aku coba menarik napas berat seraya aku coba untuk menutup laptop, entah mau apa, akhirnya aku berfikir untuk istirahat. Berbaring sejenak dan menuju mimpi-mimpi indah-ku.

Tapi, hingga dinihari aku tak bisa memejamkan mataku. Begadang dengan sekumpulan kata-kata yang aku ketik ulang sendiri di handphone-ku, menanti bintang memunculkan cahyanya. Waktu terus berjalan, apakah hari itu atau pun esok aku akan seperti ini? Yang hanya bisa berharap dan merenungi ada tawaran penelitian atau ada temanku yang mengajak ikut bimbingan? Mungkin aku terlalu serius menjalani kehidupan, atau bahkan terlalu Acuh hingga aku belum mengerti arti kehidupan di usia ku yang sudah kepala dua ini. Ini isi tulisan dengan judul di atas mungkin terlalu melebar dan tak ada poinnya. Tapi aku bisanya menulis ya seperti ini, apa yang terlintas dalam benakku, langsung aku tuangkan tanpa memikirkan pola, susunan dan keindahannya. Tak mempedulikan hasilnya jelek atau pun tak berguna. Berkarya dengan yang ku bisa. Tidak perlu menulis sampai pusing-pusing memikirkan sesuatu, yang akhirnya tulisan itu pun nggak jadi, dan percuma juga kalau sudah capek di otak, tapi tulisannya nggak jadi. Begitulah bagiku yang cukup aneh ini?

Kembali ke Laptop! saat ini di malam yang dingin berkabut rindu. Aku menunggu atau berharap, ada seseorang atau pun Delivery or go-jek dan sejenisnya yang mengetok pintu dan menawarkan Cemilan atau Makanan dan sejenisnya  untuk aku nikmati sambil melihat hujan. Makanan yang sedikit panas atau sedikit pedas yang menemaniku sepanjang malam. Sampai pagi menjelang, hingga aku terbangun dari tidurku, dengan tersenyum bahagia seperti mimpi kemarin. Khayalan ku semakin kemana-mana. Ahh, Sudahlah -_-

Rasa capek seharian dikost-an, berjibaku dengan hujan yang tak kunjung selesai. Ingin rasanya menikmati malam, merasakan hujan di sebuah hutan, tepatnya di suatu Villa kawasan pegunungan yang dingin, asri nyaman. Tidak seperti disini, di tengah-tengah kota. Hujan, melewati senja, hingga malam pun tiba, rindu ini semaki pekat entah kepada siapa? Menjadi satu, melebur bersama sepi, malam dan hujan.
Selamat Malam, Hujan di bulan September!

Menunggu hujan reda, disuatu sore September.
(Padang 09/09/2017)
by : @tsystories

Senja dan Kenangan

Hallo, Penikmat Senja!

Aku tidak pernah bisa mengerti, mengapa pemandangan ini selalu kembali dan kembali lagi: suatu pemandangan yang ku dapatkan ketika mentari beranjak pergi meninggalkan sejuta kenangan bersama senja. Pemandangan itu bagiku memilukan, bukan hanya karena merasakan kembali dingin yang merasuk dan membekukan, berangsur menuju gelap malam, tapi karena gagasan akan pemikiran yang tak lagi singkron.

Apakah makna S E N J A yang sesungguhnya? Dari saat ke saat aku masih bertanya-tanya. Senja yang selalu dikaitkan dengan kenangan. Terbuat dari apakah kenangan? Masih selalu mengganggu ingatanku dari waktu ke waktu. Iya, dia kenanngan.

Mengherankan bahwa kenangan dan senja beriringan, seringkali terpendam begitu lama dan muncul begitu saja tanpa ada sebab yang harus menghubungkannya. Aku masih selalu penasaran dan bertanya-tanya, mengapa suatu kenangan bisa terpendam begitu lama sampai muncul tiba-tiba pada waktu dan tempat yang tiada pernah akan terduga. Kenangan itu kadang-kadang bisa muncul kembali sekali saja dalam seumur hidup, terkenang sekali lantas tiada pernah datang kembali.

Bagaimanakah caranya suatu peristiwa berubah menjadi kenangan, tapi yang terpendam begitu lama sampai suatu ketika mengingatkan dirinya pernah terjadi, sekali, lantas tak pernah muncul lagi? Bukankah ajaib untuk membayangkan bagaimana caranya kenangan tersimpan dan muncul kembali atau sama sekali tidak pernah muncul kembali meski pun tetap ada entah di mana di sebuah dunia yang tiada akan pernah kita ketahui seperti apa?

Ada kalanya suatu peristiwa juga ingin kita lupakan karena kepahitan yang menyertainya. Selalu ada peristiwa dalam hidup ini yang ingin kita hapus saja dari kenangan, seperti tidak pernah terjadi, meski tetap saja teringat sampai mati – rupanya selalu ada alasan untuk mengenangkan kembali semua peristiwa yang sungguh mati-matian ingin kita lupakan saja sampai habis tanpa sisa, ingin amnesia pada bagian yang paling pahit nan menyakitkan.

Terbuat dari apakah kenangan? Bagaimanakah caranya melepaskan diri dari kenangan, dari masa lalu yang tiada pernah sudi melepaskan cengkeraman kepahitan nya pada masa kini?

Kenangan barangkali saja tidak selalu utuh: sepotong jalan, sewaktu senja, daun berguguran, ombak menghempas, senyuman yang manis, langit yang merah dengan mega-mega jingga merah menyala berarak dalam cahaya keemasan; tapi bisa juga begitu utuh ketika menikam langsung ke dalam hati seperti sembilu menyayat hati. Tidak mungkinkah kenangan yang pahit kembali sebagai sesuatu yang manis? Kenangan seperti diciptakan kembali oleh waktu, membuat masa lalu tak pernah berlalu, bahkan mempunyai masa depan untuk menjadi bermakna baru. Entah lah.

Mungkinkah kenangan itu seperti suatu dunia, tempat kita bisa selalu mengembara di dalamnya?

Aku mempunyai kenangan yang lain dengan suatu senja, yang selalu menjadi nyata karena sebuah genta. Kenangan ku adalah bunyi genta itu, genta kecil yang manis dan selalu berdenting oleh angin yang berhembus perlahan, yang bisa kubawa pulang dan mengingatkan kembali segalanya. Angin itu harus berhembus dengan ke pelahanan yang sama dengan ketika aku pertama kali mendengarnya, dan dengan demikian bunyi genta itu mengembalikan suatu masa yang telah berlalu. Bagaimanakah suatu masa yang telah berlalu bisa kembali lagi dan mengembalikan perasaan dan suasana yang sama seperti ketika aku mengalaminya, aku sama sekali tidak pernah bisa mengerti. Mengapa demikian..

Kenangan ku tentang pemandangan di luar jendela pada suatu senja itu selalu kembali bukan karena bunyi denting genta kecil itu. Kenangan itu selalu kembali seolah-olah tanpa penyebab apapun, atau setidaknya aku tidak pernah tahu pasti apa yang selalu mengembalikan kenangan itu kepadaku.

Aku masih bertanya, terbuat dari apakah kenangan? Aku tidak ingin mengingat sesuatu, tapi ada suatu kenangan yang selalu kembali. Aku ingin sekali mengingat-ingat sesuatu, tapi barangkali aku akan lupa untuk selama-lamanya. Aku juga selalu teringat sesuatu yang tidak pernah kuceritakan kembali, tidak pernah kukatakan, tidak pernah ku apa-apakan, karena kenangan itu memang hanya bertengger saja dalam kepala.

Tapi mungkin saja peristiwa ini terjadi. Aku akan selalu teringat sesuatu yang lain, tapi yang tidak mungkin kuketahui dengan pasti kiranya seperti apa. Tapi mungkinkah bisa dipastikan suatu peristiwa itu tidak pernah terjadi? Apakah ada sesuatu di dunia ini yang bisa kita ketahui dari segala kemungkinan, serentak, dan seutuh-utuhnya? Semua peristiwa bisa saja atau mestinya tidak mungkin terjadi, tapi aku tidak pernah tahu apa yang telah dan akan terjadi. Betapa sedikit yang bisa kita ketahui dalam hidup yang begitu singkat.

Sayang sekali, aku tidak bisa menceritakan apapun tentang “Senja dan Kenangan ku” dengan waktu.

Penikmat Senja,
Padang: [21/03/2017]

Terimakasih
~@tsystories

Bagian 23: Bury The Hatchet

Setelah beberapa menit mematung. Menjadi pengamat atas kelakuan sok rapi dia pada Story #22: You’re Late. Aku mulai bosen berdiri. Karena dari tadi aku sudah berdiri amat cukup lama.

Maka, aku ber-inisiatif duluan untuk berdamai. Toh, apa yang terjadi sudah berlalu dan bukan kesalahan dia juga.

Aku saja yang terlalu manja tidak ber-inisiatif untuk naik kendaraan umum atau sejenisnya. Malah memilih menunggu padahal aku tau dia cukup sibuk di hari-hari weekday begini.

Aku saja yang terlalu tinggi berharap. Karena dia yang pada awalnya memaksa dan berjanji untuk menjemputku siang itu. Padahal aku sudah menolak. Mengatakan kalau sisa saldo Go Pay maupun OVO ku masih cukup.

Aku saja yang terlalu bego. Aku saja yang terlalu setia. Aku saja yang terlalu ……, padahal kami bukan seperti itu. Bukan juga seperti yang kalian pikirkan. Lagi-lagi jika ada uang bertanya, aku akan bilang ini sebuah kesalah pahaman.

“Udah minta maafnya?”, kemudian aku tersenyum jahil, sambil terus menatap orang yang ada di hadapanku.

“Six packs juga”, komentar ku tanpa sadar.

Setelah selesai berbenah dengan penampilannya yang tadinya rapi banget sekarang sedikit terlihat santai dengan dua kancing kemeja bagian atas terlepas, kedua lengan kemeja dilipat hingga sikut.

Kemudian dia sedikit mendekat, mencondongkan wajahnya ke arah sampingku.

“Really?” bisik nya tepat di telingaku. Aku hanya membalas dengan anggukan kecil.

Saat aku sadar dengan pujianku tadi, malu dong! Aku langsung mengubah ekspresiku. Merasa sedikit aneh lalu berganti dengan rasa kesal. Aku mendelik tajam ke arahnya.

Dia telah kembali ke posisi semula, sambil terkekeh-kekeh kecil.

“Rajin olahraga? Apa cuman latihan boxing?”

Tanyaku mengalihkan kecanggungan. Sebenarnya aku juga sedikit penasaran. Kok dia bisa punya badan se-bagus itu?

Aku ingat dulu My-Ex-Bf yang anak angkatan juga six packs kayak dia. Tapi wajarlah, karena my-ex emang sekolah angkatan (Akademi angkatan apa? #rahasia). Notaben-nya anak akademi angkatan ‘kan semua badannya bagus-bagus, yah. Emang dipahat untuk itu. Eh, maksudku efek dari hidup sehat, latihan yang keras dan konsisten setiap hatinya selama masa pendidikan. Hehe.

Next Chapter… #24
by @terryselvy

Bagian 22: You’re Late

Setelah kejadian pada story #21:
Right Here Waiting for You.

Beberapa jam kemudian…

“Udah selesai? Sorry ya, lama nunggu. Tetiba, mendadak aku dipanggil sama dosen pembimbing tadi. Belum sempat ngabarin. Eh, ponselku lowbatt.”

Sesalnya sedih dengan beberapa pernyataan beruntun sekaligus beberapa tarikan napas yang belum stabil, saat melihatku dengan wajah sedikit ditekuk.

“Iya, gapapa. Kalem. Aku juga baru keluar ini. Hehe”

Ujarku sembari tersenyum canggung, dan sedikit berbohong tentunya (maaf, ini bukan kebohongan seperti yang kau kirakan, kawan-kawan pembaca)✌. Hanya agar dia tidak terus-terusan meminta maaf nantinya.

Mana tega aku mengatakan kejujurannya, kalau aku sudah menunggu sedari tadi. Kurang-lebih,, aku sudah berdiri 1 jam di depan toko, di loby-nya. Sambil terus menghubungi kontak dia dan mengirim chat juga via Whatsapp.

Hampir saja, aku mau membuka Aplikasi tranportasi online andalanku. Tadinya. Jika dia tidak kunjung tiba.

“Hm, Maafin ya. Aku juga kesandung lampu merah mulu dari tadi. Hehe. Mana panas banget ini.”

Racaunya sambil mengibas-ngibaskan helaian rambut di kepalanya yang mula tampak lepek dengan keringat.

Dia melanjut aksinya membuka jacket dongker yang dikenakannya lalu menyodorkannya ke padaku. Aku hanya menyambut jacket itu sambil terus memperhatikan dalam diam.

Dia juga melonggarkan dasi yang terpasang rapi. Membuka dua kancing bagian atas pada kemeja bercorak soft biru muda yang terlihat begitu pas dan cocok saat dia kenakan. Kemeja itu kini tampak sedikit mencetak badannya karena sudah basah dengan keringat.

Dia sibuk dengan aksinya. Berlanjut menyingsingkan lengan kemeja hingga sesiku, dengan beberapa kerut lipatan. Mulai dari lengan kanan berikutnya pindah ke lengan kiri. Hingga dirasa seimbang dan rapi. Yap, satu hal yang tidak luput dari dia. Seberantakan apapun tetapi dia tetap berbenah dan berusaha terlihat rapi. Kapan pun dan di mana pun.

Next Chapter… #23
by @terryselvy

Rumah BagiKu

Sore ini aku kembali lagi, kembali ke rumah itu. Ke rumah yang selalu sepi seakan tak berpenghuni, kerumah yang selalu aku jadikan tempat berkeluh kesah akan semua masalah, tempat pelarian ternyaman yang paling aku rindukan, setelah jalanan. Aku tidak begitu sependapat dengan mereka mengenai makna rumah sesungguhnya, bagiku rumah tak seistimewa itu mungkin juga lebih baik.

Rumah? Hanya sebuah tempat pelarian, tempat penuh pelampiasan dan tempat bersarangnya rindu pada kebencian, tempat pondasi penguatku dikala lelah dihadapan masalah, aku kembali ke rumah, merenung dan menghempaskan semua, semuanya.

Sore ini, senja menjelang di ufuk barat sana, bayang-bayang ungu hingga jingga membatasi cakrawala. Mendadak aku sadar, hal-hal indah dan luar biasa pada keberuntungan yang selama ini aku nanti-nantikan sebetulnya telah sejak lama terjadi. Seperti berubah nya musim, kejadiannya bertahap perlahan-lahan. Dia juga berubah seperti perubahan pemandangan alam. Perubahan nya nyata hingga dapat dilihat dan dirasakan oleh aku sendiri.

Hari-hari yang akan datang tak kan sana lagi. Setidaknya, tak kan sama selama masih ada musim pergantian siang maupun malam. Dan, kecerahan hari-hari itu tak kan bakal tergantung lagi pada yang namanya rumah. Bukan hanya rumah ini yang bisa membuat hari-hari ku terasa menarik, penuh warna, menantang namun di satu sisi penuh kekecewaan dan dendam yang entah pada siapa harus aku ceritakan. Tapi, aku berharap pada akhirnya ini aku bisa mengejar ketertinggalanku.

Padang, 27 November 2016 (22:06 WIB)
Yang Merindukan Rumah Istimewa
@tsystories

Bagian 21: Right Here Waiting for You

“Eer,, kenapa nggak aktif sih?”, gumamku.

Terus memandangi keadaan di keluar. Aku sempat membayangkan bagaimana matahari siang yang begitu terik – panas membakar kulit orang-orang yang berkeliaran di luar sana.

Dengan pemikiran demikian, aku memutuskan mengambil pilihan yang saat itu paling waras menurutku, dengan tetap berdiri di sini, di lobi sebuah toko yang tadi habis aku sambangi untuk berbelanja.

Walaupun itu artinya, aku juga memilih untuk terjebak dengan salah satu keadaan yang paling aku benci sepanjang hidupku, yaitu ‘Menunggu’. Aku memiliki banyak kekecewaan dan semuanya adalah kenangan buruk pada yang namanya menunggu. Entah itu menunggu yang sudah pasti, apa lagi menunggu sesuatu yang tidak pasti. Benar-benar melelahkan.

Lagian, orang bodoh mana yang menyukai kedua pilihan di atas?

Berkali-kali aku geser dan aku sentuh kembali tombol di layar ponselku. Tetapi tetap saja hasilnya sama. Hanya suara operator yang setia menjawabnya untukku.

“Hmm, yaudah deh. Tunggu aja. Mungkin lagi di jalan”, gumanku menghibur diri. Dengan sedikit intro ala Nissa Sabyan tapi versi ngedumbelnya.

Lalu, aku mengirim beberapa kalimat singkat via chat ke orang yang sama dengan pemilik kontak yang berkali-kali aku coba telepon tadi. Tapi hanya ceklis satu. Benar-benar off.

Tetiba dari dalam toko terdengar musik bergulir dari yang tadinya memutar lagu ceria, kini…

____________________________________________
… Oceans apart day after day
And I slowly go insane
I hear your voice on the line
But it doesn’t stop the pain

If I see you next to never
How can we say forever?

Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you

I took for granted, all the times
That I thought would last somehow
I hear the laughter, I taste the tears
But I can’t get near you now

Oh, can’t you see it baby?
You’ve got me going crazy

Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you

I wonder how we can survive
This romance
But in the end if I’m with you
I’ll take the chance

Oh, can’t you see it baby?
You’ve got me going crazy

Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you

Waiting for you…

____________________________________________

Begitulah kiranya, samar-samar terdengar Lirik lagu ‘Richard Marx’ berjudul ‘Right Here Waiting for You‘ (kala mendengarkannga saat itu juga langsung aku googling). Yap, tepat. Persis seperti dugaanku. Aku langsung mengetik di Note ponselku story ini. Hehe ✌

Lirik demi liriknya bersenandung menyusupkan nada-nada indah ke telingaku dari dalam toko. Kenapa bisa samaan begini, sih? Kenapa keadaan seperti tau betul apa yang sedang aku alami?

IYA, AKU DI SINI. SEKARANG. MENUNGGU MU!

Menunggu seseorang yang telah berjanji sebelumnya akan menjemputku. Tapi… Next!

Next Chapter… #22
by @terryselvy

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai