Kalian,, Kita Sama-sama (ter)Asing. Kekonyolan adalah mengecek sebuah kotak pesan berkali-kali padahal sudah tahu hanya kesia-siaan yang ada. Parahnya, saya melakukan hal itu berkali-kali, sampai diri saya berubah menjadi kekonyolan. Saya tidak tahu kenapa kalian ’menghindar’, tak memberi ruang bagi saya untuk sekadar berkata ‘sallam’, dan menanyakan kabar.
Barangkali kalian ’uzlah’, karena kalian telah menemukan hakikat. Ya, ’uzlah dari ’hectic life‘ dan para hipokrisi yang menambah kebisingan dengan ucapan dan tampang-tampang pencintraan penuh kepalsuan, fake. Kamu menjatuhkan diri pada ke-apaadaanmu; idealis, totalitas, misterius, genius, seperti apa yang kalian katakan dan saya rasakan. Namun, terkadang kalian muncul di permukaan dengan topeng, ber-kamuflase menjadi sosok jenaka, fake smile.
Hebat! dan orang-orang, bahkan awalnya saya, mengira kalian berasal dari lautan tenang dan damai. Perlahan, kejadian yang saya temui, setiap perkataan yang terlontar dari kalian mengerutkan kening saya karena sesak dengan konotasi, pemisalan dan misteri, kini dapat dimengerti walau tidak keseluruhan. Yang pasti kalian bukan berasal dari lautan biasa, kalian tumbuh kembang di perairan yang ombaknya gagah. Saya tidak tahu berapa kali kalian terhempas, tergulung, bahkan hampir tenggelam di sana. Tapi, itu membuat kalian bertahan dengan karakter ke-apaadaan kalian, saat kebanyakan orang terseret ke pusaran samudera dengan mudah dalam keadaan abu-abu.
Kalian adalah orang asing yang terasing, begitupun saya. Biarkan dunia beranggapan seperti itu. Mungkin dunia lah yang menjadi asing bagi kita. Saya mengamini bahwa kalian orang asing. Orang asing yang saya rindu kan. Bagaimana mungkin? Tapi begitulah. Merindu tak harus pada seseorang asing yang dikenal saja. Terlalu berlebihan? Demikianlah adanya, jika dijelaskan terlalu pelik. Sama pelik dengan sebuah perpisahan.
Kalian tau? sebelumnya saya beranggapan tak ada yang mesti dirisaukan dari perpisahan, karena ia amatlah mudah. Tak usah ditangisi, tak mesti mengadakan selebrasi. Sebab barangkali dunia ini memang diciptakan untuk sebuah perpisahan, seperti kata Sungging Raga: ”Hidup sejatinya mengenai perputaran perjumpaan dan perpisahan tanpa henti“ (dikutip dari karya Sharmay HA).
Dan bagi saya perpisahan itu hanya dalam drama atau cerita-cerita cinta picisan saja, atau hanya seberkas kenangan masa. Salah! Saya dijungkir-balikkan kenyataan. Tampaknya kenyataan tertawa terbahak-bahak melihat saya terpahit-pahit menelan sebuah kata yang namanya perpisahan. Padahal saya telah mempersiapkan mental jauh-jauh hari, manakala perpisahan itu datang. Nyatanya ia menghantam lebih cepat, tepat di ulu hati saat saya lengah, hingga saya menggelepar dengan ketidak berdayaan, mengenaskan.
Kalian bisa ajari saya bagaimana mengusir kenangan yang bergentayangan yang lebih menyeramkan dari para penunggu laut? Padahal kenangan itu hanya berwujud sekumpulan kata-kata, bukan fragmen-fragmen yang nyata. Tetapi, lebih menyeramkan lagi, serasa menjadi orang asing yang ter(asing) tersesat di planet antah-berantah. Kalian tahu? Apa jarak sebegitu hebat mengubah sesuatu yang dikenal (dekat) menjadi (ter)asing? Walau begitu, kalian tetap saya rindukan. Jangan bosan dan melipat kening, kalian akan menemukan kata ’asing‘ yang berserakan. Sebab kata (ter)asing berdengar dan menjadi headline di pikiran saya.
Kalian tahu, kalian yang memupuk sisi humor saya. Kini humor itu menumpul dan berkarat, mengusang dan mengasing saat kalian dan saya sama-sama (ter)asing, atau barangkali dari dulu kalian menganggap saya alien (makhluk asing) tersesat yang jatuh ke bumi dan ’berjumpa dengan kalian, dengan pesona keapaadaan(mu) ya kamu (diantara kalian), lalu saya berangan untuk ber-transformasi menjadi makhluk bumi seutuhnya, padahal itu suatu kemustahilan!
Ahh,, perpisahan benar-benar mencipta jarak bermiliar tahun cahaya dan membuat kita merasa (ter)asing lagi. Karena itu pula, tanggal yang berguguran di tubuh kalender begitu pelit. Waktu serupa Siput linglung, bagai terombang-ambing diruang hampa. Untuk melipat detik pun seperti menggulung tahun. Tampaknya kenyataan dan waktu berkomplot mengolok-olok saya. Biar saya lama terpahit-pahit dalam keterpisahan yang terjadi, biar saya mewujud kepahitan dan biar saya menjadi (ter)asing.
Ter(sadar) bahwa saya benar-benar makhluk asing yang tersesat. Kamu tahu? kalian tahu? Pulang teramat berat. Sebab, kini ke-pulangan saya memikul kenangan seberat massa galaxy yang mustahil akan saya pikul. Kendati begitu, adalah keharusan bagi saya untuk pulang pada ’galaksi’ di mana saya berasal, tampaknya saya terlalu lancang untuk tersesat. Barangkali adanya, saya tidak boleh tidak, harus dienyahkan.
Benar? Karena ketersesatan saya adalah kelancangan. Ahh, kalian. Padahal tiada daya dalam diri saya. Atas lajunya perasaan ini pun saya tak kuasa, bahkan sekadar menghapus denyaran kata (ter)asing yang menjumud di pikiran. “Dan begitulah wanita, mengandalkan perasaannya sendiri”, tapi wanita tidak se-egois itu kok ^^
September 2, 2016
Yang Merindukan kalian,
@tsystories
Rujukan:
[1] Sepenggal kata dikutip dari karya Sharmay HA
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaualatan Rakyat” Minggu edisi 15 Mei 2016