“Kamu sampai kapan mau melamun di situ? Buruan turun!”, dibarengi delikan yang sulit diartikan.
“Ah, iya. Bentar”, sedikit kaget dan gelagapan aku buru-buru membuka seat beltku.
Saking sibuknya aku melamun sedari awal keberangkatan sampai mobil telah berhenti pun, aku tidak sadar. Aku masih speechless dengan semua yang dia lakukan seenak jidatnya. Mengganggu ku di pagi weekend, datang seenaknya mengacaukan hari dan hatiku, memaksa aku ikut mobilnya tanpa diberitahu tujuan, dan apa lagi sekarang?
Masih ingatkah beberapa penggalan cerita bersambung yang pernah aku bagian?
Apa kau tau bahwa cerita itu tanpa akhir?
Hari ini aku ikut mobilnya menuju ke sebuah pantai. Apakah akan hujan seperti kepergian kami yang lalu? Tidak. Hari ini sangat terik dan panas.
“Masih ingat pantai ini? Udah banyak berubah ya sekarang”. Dia berjalan mendahului ku sambil mengedarkan pandangan dari ujung ke ujung sisi pantai)
Bagaimana aku bisa lupa? Sebuah kenangan yang masih menyeretku hingga saat ini. Mungkin ini terakhir kalinya aku mengenangnya. Janjiโ
Pantai dan jutaan kenangan, kini kembali. Begitu nyata. Betapa ku ingat, kami dulu pernah saling menyukai tanpa masalah sedikit pun selama bertahun-tahun. Walaupun kami masing-masing sempat mempunyai seseorang yang spesial diantara kami. Akan tetapi, kami masih tidak bisa melepaskan perasaan satu sama lain, kami sama-sama egois.
Maaf buat seseorang di luar sana. Kami sama-sama tidak bisa memberi cinta yang layak kepada orang lain, karena kami egois.
Aku haus akan kebebasan yang dia sebutkan. Tapi aku tidak pernah berani mencobanya, begitu pun dia. Sebenarnya aku hanya ingin seperti ini. Walaupun aku memperjuangkan kebebasan, bepergian dan berkelana hingga ke ujung dunia. Memiliki jutaan kenalan baru dan ribuan tempat untuk disinggahi, nantinya akan pulang juga.
Dulu aku berfikir bahwa, kesepian hanya ada dalam cerita dongeng, dan tak pernah terpikirkan olehku jika itulah ‘DUNIA-MU‘
Begitu sulit untuk memutuskan benang merah antara kita. Tidak masalah jika itu dalam cerita novel atau kisah nyata. Jika bisa, aku lebih memilih untuk pergi dari lingkaran tanpa nama ini, kita.
Next Chapter… #6
by @terryselvy

