TERRY SELVY

Hello, Assalamu’alaikum!

Nama saya Terry S. Y., lebih akrab dengan nama ‘Terry Selvy’. Saya bermarga/suku Gea, diambil dari marga Ayah. Saya seorang Yatim-Piatu yang berusaha mandiri. Saat kecil saya diasuh oleh nenek dari Ibu, hingga saya tamat Sekolah Dasar (SD) dan beliau wafat pada 2008. Memasuki usia remaja saya tinggal bersama kakak dan seorang Ayah yang luar biasa, sekaligus menggantikan peran Ibu di keluarga kecil kami, hingga beliau wafat, 21 Desember 2019.

Saya lahir dan dibesarkan di lingkungan nan indah akan keberagaman budaya dan elok akan alamnya, di Minangkabau. Tepatnya di Tanjung Basung II, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Indonesia-25586. Setelah mengijak usia dewasa, saya memilih melanjutkan pendidikan di bangku kuliah dan memutuskan untuk tinggal di sebuah kostan kecil di pusat kota.

Saya bangga menjadi orang Indonesia, yang suka travelling, kuliner, photograpy, membaca dan menulis. Saya suka traveling ke banyak tempat secara acak sendirian. Saya hobby membaca beberapa buku dari genre apa saja, asalkan menarik. Saya senang berpergian ketempat-tempat baru, mengagumi keindahan alamnya, mengamati budaya sekitar dan kearifan lokal, mempelajari sesuatu yang baru, membaur dan berkenalan dengan orang-orang baru yang memiliki budaya dan latar belakang yang berbeda, mengambil foto secara acak, mengabadikan momen indah sebagai kenangan dalam ingatan saya dan menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Saya juga suka hiking ke puncak gunung, petualangan ke beberapa pulau, padang gurun, ikut roadtrip ke beberapa tempat, memburu aneka kuliner khas di tempat tersebut, atau hanya menikmati waktu sendirian, nongkrong di bar kopi maupun pinggir pantai, sambil menulis sembari ditemani secangkir kopi. Apa pun asalkan menyenangkan!

Tidak begitu beruntung, tidak banyak prestasi, tidak banyak hal menarik, tetapi saya cukup bersyukur dan menikmatinya. Mari berkenalan, menjadi teman, atau apapun itu. Jika ingin melihat lebih banyak tentang saya, silakan ke email terryselvy04@gmail.com, atau untuk mengikuti instagram @terryselvy dan terryselvy.com (lagi diperbaiki, silakan ke https://terryselvy.wordpress.com untuk sementara)

GADIS JAKARTA by Najib Khaelani

“Apa itu PKI, menurut Terry?” tanya seorang abang kepada saya malam itu yang kebetulan malam minggu.

Pertanyaan langka antar pemuda/i di zaman yang katanya milenial sekarang, tentang sejarah kelam Indonesia tersebut mengawali percakapan panjang kami kala nongkrong di sebuah coffee shop bertema outdoor, milik salah satu teman akrab abang ini. Yang mana pembahasannya berbuntut panjang pada diskusi, cara pandang, dan merambah pada catatan sejarah setelahnya. Belum kunjung usai hingga pada seruputan terakhir coffee yang telah dingin terabaikan di dasar cangkir saya. Jika dikaji kembali dalam sebuah diskusi seperti ini sangatlah menarik. Akan tetapi tidak mungkin cukup, memang sebanyak itu sejarah negara kita, Jendral!

Diskusi semalam mengingatkan saya pada sebuah buku yang pernah saya baca [Gadis Jakarta] beberapa tahun lalu, tempat semasa duduk di bangku SMA. Dan, saya juga pernah menjepret buku tersebut saat di gerai donuts & coffee. Setelah diskusi semalam yang belum usai dan kami balik dari coffee shop, saya teringat akan photo di atas. Tentang apakah buku ini? Apa hubungannya Gadis Jakarta dengan Sejarah Indonesia? Hm… BACA, gih!

Gadis Jakarta karya novelis Mesir ini menceritakan kondisi pergolakan politik Indonesia tahun 1965.

“Partai” (PKI) dan penguasa percaturan politik Indonesia. Penculikan. Penjara. Dan, pergolakan politik, etc.

Novel memuat sejarah yang tidak bisa dikategorikan novel sejarah ini, menceritakan babak demi babak pergolakan politik, yang menurut ‘setting ceritanya’ adalah pemberontakan PKI. Uniknya, Penulis menggunakan berbagai simbol untuk memperkuat ide cerita.

Barangkali novel ini adalah satu-satunya novel yang ditulis orang asing, khususnya Arab tentang kondisi Indonesia. Bisa jadi karena kedekatan ideologis antara Indonesia dan Mesir yang mengilhami Penulis. Seperti kedekatan ideologis Masyumi dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir.
YUK BACA! HAHA~

HAPPY SATNIGHT, BANDROL MC PADANG!

Guilty of checking your phone first thing in the night and feeling frazzled, rushed and stressed-out? Same.

Like most people, my alarm clock is my phone and as soon as i hit snooze in the night, I end up spending a good chunk of my time endlessly scrolling through notifications and freaking out on the amount of things i haveto accomplish…

Once I’m stress, I take some much needed “me-time” to enjoy a cup of coffee (with no distractions). Thanks to @bandrolmcpadang, my night routine includes a premium, personalized coffee experience – empowering me to close my day with a feeling of calm, cool and collective.

As a result, feeling less stressed and more productive for the rest of my weekend! HAPPY SATNIGH! ☕

FOTO DOKUMENTASI PRIBADI (MENYUSUL, SOON!
P.S: Belum sempat mindahin foto.
____________________________________________
OK. Sampai ketemu di kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi berikutnya…
Bye bye, Coffee Lovers!

CERITA-BUKU-KOPI-WAKTU

BUKU:
Melupakan orang yang disayangi sama sulitnya dengan mengingat seseorang yang tak pernah ditemui.

CERITAKU:
Hi, kamu! Apa kabar? Partner baru mu, apa kabar juga? Titip salam ya. Selamat ulang tahun buat dia! Sebenarnya, gw nggak pengin lanjutin tulisan iseng tentang mantan ini, sih, karena seharusnya akun instagram gw adalah instagram dengan caption bercerita tentang sesuatu yang layak untuk di share dan gak punya tempat untuk postingan alay semacam tulisan tentang mantan. Haha. Gak bahagia banget, yekan? Apa kata rang-orang coba kalo gw masih nulis postingan tentang mantan?

Well… gw mana peduli apa kata rang orang yang nggak ngegaji gw, gak ngasih gw makan dan uang jajan, apalagi ngupilin gw. So, let’s start with the most annoying story per-mantan-an: Mantan. Eh… gak annoying, sih. Kadang-kadang aja, kalau ingat kok, annoyingnya, kalau ingatan gw tentang dia nyelonong nongol plus sifat melow bin freak-gw lagi kumat. Haha.

Sejauh ini gw tidak pernah terlihat sedih, drama, apa lagi nangis-nangis 7 hari 7 malam demi seseorang. Gw sering dibilang flat tentang perasaan, kadang juga di katai gak peka… So, apakah gw benar-benar orang yang seperti itu, apakah orang-orang yang tanpa perasaan bisa dengan mudah melupakan seseorang yang di sayangi bernama mantan? Salah.

Melupakan mereka lebih sulit dari pada mengingat seseorang yang belum pernah ditemui. Perihal mengingat orang, itu perihal kedekatan persoalan. Ingat saja kebaikannya, kenali ia, pahami, dan pelajari semua tentang mereka yang kamu tau sebisa mu. Yakinlah, sejauh apapun, selama apapun, dan belum pernah bertemu sekali pun, jika kalian saling mengenal dan berkomunikasi baik pasti akan teringat, kok. Tidak sesulit melupakan orang yang masih ingin di ingat. #eh

THE TIPPING POINT BY Malcolm Gladwell, 2000.

The Tipping Point:
Bagaimana Hal Kecil Dapat
Membuat Perbedaan Besar
by: #MalcolmGladwell, 2000.

Gladwell mendefinisikan titik kritis sebagai momen massa kritis, ambang batas, titik didih. Buku ini berusaha menjelaskan dan menggambarkan perubahan sosiologis “misterius” yang menandai kehidupan sehari-hari.

Seperti yang dikatakan Gladwell:
“Gagasan dan produk serta pesan dan perilaku menyebar seperti Virus”

Misal:
BISAKAH… kenaikan trand/popularitas dan penjualan KOPI-turunannya di kota Padang berpengaruh pada penurunan tajam dalam tingkat kejahatan du negeri ini pada tahun mendatang? (Why not… Baca buku ini!)

Gladwell menggambarkan 3 aturan epidemi
(3 agen perubahan) di titik kritis epidemi:

1. The Law of the Few
“Keberhasilan setiap jenis epidemi sosial sangat tergantung pada keterlibatan orang-orang dengan seperangkat hadiah sosial tertentu dan langka”. Menurut Gladwell, para ekonom menyebutnya “Prinsip 80/20, yang merupakan gagasan bahwa dalam situasi apa pun kira-kira 80% dari ‘pekerjaan’ akan dilakukan oleh 20% peserta” (Prinsip Pareto).

Mereka dijelaskan sebagai agen: Penghubung (Connectors/Link, exp: Komunitas), Para Pakar (spesialis informasi, orang yang diandalkan untuk menghubungkan kita dengan informasi baru), Tenaga penjual (sales/promotor, orang yang karismatik dengan keterampilan negosiasi yang kuat)

2. The Stickiness Factor
Mengacu pada konten spesifik dari sebuah pesan yang membuat dampaknya mudah diingat. Program talkshow, event, seminar, dan berbagai konten maupun acara yang lagi trend/populer di kalangan masyarakat. Beberapa dari para penggiat ini memelopori sifat-sifat faktor kelengketan, sehingga meningkatkan retensi “konten pendidikan yang efektif serta nilai hiburan”

3. Kekuatan Konteks.
Perilaku manusia sensitif dan sangat dipengaruhi oleh lingkungannya.

Gladwell menjelaskan:
“Epidemi sensitif terhadap kondisi dan keadaan saat dan tempat di mana mereka terjadi”. Misalnya, upaya “Nol Toleransi” untuk memerangi kejahatan kecil seperti pemukulan dan pengrusakan fasilitas umum di kota-kota besar menyebabkan penurunan kejahatan yang lebih signifikan di seluruh kota. Hal kecil yang secara continue akan berdampak besar

Terima kasih bukunya, kak Eunike Kartini (@tarinamunista)
#TippingPoint #PsikologSosial #MicroTrends: Pasukan Kecil Di Balik Perubahan Besar Besok #Micromotives #Macrobehavior #DifusiInovasi #Epidemiologi #TitikKritis #HukumMinoritas #BigMo
#Gladwell

rn-coffee shop, solok

Solok, 08/11/2018

Mengunjungi suatu tempat hingga sebuah kota dikala libur atau diwaktu senggang pekerjaan maupun jadwal perkuliahan adalah sebuah kebiasaan iseng bagiku. Di luar kebiasaan iseng lainnya, yang kau sendiri tau apa itu. Haha. Entah itu bersama teman atau sendirian. Aku senang dan menikmatinya. And then, saat mengunjungi suatu tempat, bagiku tidak lengkap rasanya tanpa menyicipi aneka kuliner lokalnya. Pun mampir ke kedai kopi sepertinya kebiasaan lainnya. Jadilah kami mengunjungi sebuah coffee shop di kota ini.

So, singkat cerita.
Dari seharian berencana menghabiskan waktu di kota Solok. Kami manfaatkan semaksimal mungkin untuk mengunjungi beberapa tempat wisata andalan kota ini. Dari yang sudah lama terkenal sampai yang baru. Lompat dari satu destinasi ke destinasi lainnya. Tak lupa untuk memenuhi kebutuhan jasmani kami. Tempat ini menjadi pilihan karena selain menyuguhkan kopi dan aneka minuman andalannya juga menyediakan makanan untuk makan siang kami. Dan, kami menghabiskan sisa waktu istirahat siang selama 2 jam di sini untuk lunch, ngobrol, dan merencanakan tujuan destinasi selanjutnya.

Tempat ini awalnya membuatku cukup penasaran bagaimana hebatnya sajian kopi di kedai ini @rncoffeeshop. Dan, aku sudah cukup lama mengetahui perihal tempat ngopi yang satu ini. Bisa dibilang aku taunya dari jejaring media sosial. Yes, #instagram. Bagi sebagian orang mengatakan medsos itu toxic, banyak hal negatifnya. Yap, bagaimana pun penilaian orang tentang medsos, tetapi bagiku sangat menarik, berfaedah dan banyak membatu baik hastag maupun loc dan beberapa tag dari para netizen yang jadi pelanggan dan pernah datang berkunjung ke tempat ini. Mereka sangat membatu ku dalam menentukan pilihan dengan penilaian sepihakku. Dengan gampang aku bisa mengetahui suatu tempat. Menjelajahi dunia serta aneka penampakan yang ditawarkan. Salah satunya tempat ini.

Namun, setelah sampai di tempat ini. Aku kembali ‘ISENG‘, menanyakan sesuatu kepada mereka yang jawabannya aku tidak merasa puas. So, bukan salah mereka, hanya saja salah keisenganku kala itu. Haha. Aku pun mengurungkan niatku untuk menyicipi secangkir kopi tersebut. Berganti dengan segelas minuman di atas. But, ini ENAK

FOTO DOKUMENTASI PRIBADI (MENYUSUL, SOON!
P.S: Belum sempat mindahin foto.
____________________________________________
OK. Sampai ketemu di kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi berikutnya…
Bye bye, Coffee Lovers!

DAPOER ROTI BAKAR PADANG with coffee

JL. Raden Saleh No. 17B padang, Sumatera Barat, Indonesia

Instagram: @daoerrotibakar.pdg
http://www.rotibakar.id


Kamis, 11 April 2019 (19.57 WIB

Roti Martabak
Durian
Tambahan Toping – Coklat
Tambahan Toping – Keju

Hot Coffee
Kopi Toraja (es/dingin – es batu)


Hot Coffee
Kopi Toraja (es/dingin – es batu)

DAPOER ROTI BAKAR PADANG: Roti Martabak Durian (Tambahan toping – Coklat – Keju) + A cup of Toraja Coffee-ice. Join me for a slice? 🍞 ☕ cheers!

BTW, dari kemarin aku kepingin makan roti bakar. Aku iseng coba cari di instagram, kira-kira di mana ya roti bakar yang enak plus bisa nyantai duduk-duduk cantik nanti malam. Nah, gak begitu ribet, nemulah salah satunya tempat ini. Setelah google MAP, oh, gak jauh toh dari kostan. Okay, bakda magrib aku terniat bangetkan, cabutlah sendirian seperti biasa via tranportasi online andalanku. Beberapa saat setelah aku nyampe di sini, my bro reply image chat via Whatsapp.

My bro: Sama siapa di sana? (My bro reply my pic)

Me: Sendiri. Sini lah. (Ini orang kayak gak tau aku saja, kan, aku kemana-mana sendirian mulu. Gak usah ditanya sama siapa lagi)

My bro: Nunggu bentar mau? Siap-siap dulu (aku paling hafal ini orang cepat kok siap-siap kalau di tungguin)

Me: Hahaha. Iya.

My bro: Nggak apa kan ni? Si bro nunggu bentar, tapi ntar di tr****r?

Me: Pilih salah satu gak boleh dua2. Nyuruh aku nunggu apa nyuruh tr****r? (balasku becanda)

My bro: Nunggu aja kalau gitu. Meluncur, bro. Dimana lokasi mu bro? Ini udah di jalan (W.o.w, cepat juga pergerakannya). Lalu aku berbagi lokasi.

Setelah pesanan ku dateng, tidak lama, my bro juga nongol. Katanya sih, sempat tersesat dan beberapa kali call ke aku. Haha…, so, ya akhirnya ketemu lagi, lagi, dan lagi. Gak bosen-bosen berbacot ria sama orang satu ini.

Dari yang awalnya aku buka laptop dengan niat mau ngulik-ngulik ngedit video dan beberapa deadline ngedit tulisan, juga revisian. Malah, berganti haluan jadi ngobrol semi fokus gitu, tutup buku, dan matikan laptop. Berakhir dengan menatap horor jarum jam. Hm, saatnya balik. Eh, setelah beberapa jam berlalu nongkrong nyaman di sini, tetiba terlupa, dan baru ke ingat kalau aku ada janji buat nyusul salah satu temanku ke tugem Padang, tadinya (sebelum ke sini) haha, suka lupa aku tuh akhir-akhir ini. Maafkan, pak. Setelah aku utarakan hal tersebut, my bro akhirnya mutusin buat ngantar dan nemanin aku ke tugem, berhubungan mereka juga saling kenal dan cukup akrab di group. Ya, sudah. Akhirnya kami lanjut ke #TugemPadang

12. Imagine coffee, ngopi di veteran (Amor Fati)

FULL Story, Update….. SOON!

Imagine = Mebayangkan, Menganggap, Mengkhayal, dln.
Coffee = Kopi
Imagine Coffee

So, Imagine Coffee adalah….?
(artikan menurutmu, apa?)

Hi, You! Lebih suka AMOR•FATI atau KA•LA, nih?
Kalau aku di suruh milih, di antara mereka, aku lebih suka KO•PI di Imagine Coffee saja. Apakah aku egois? Oh, tentu tidak! Antara Amor Fati dan Kala, tidak bisa di pilih. Sebuah kesalahan jika mereka di jadikan pilihan di antara salah satunya. So, ada kopi di sana, kok. Kalem. Haha~

KA•LA : Kita adalah Sepasang Luka yang Saling Melupa
Jika perubahan adalah satu-satunya yang pasti, maka ketidakpastian akan dimiliki oleh waktu. Karena pada detak ke sekian, aku mendapati diriku jatuh cinta pada seseorang yang tidak ingin secara egois aku miliki. Lalu kita, diselundupkan dalam Kala, sebagai pengantar pesan utusan semesta.

Amor•Fati : Kita adalah Sepasang Salah yang Menolak Pasrah
Kita pernah menjadi sebuah ketentuan pada pertemuan yang saling mengisi hingga saling meniadakan. Namun pada langkah yang saling menjauhi, ketentuan terasa seperti sebuah perjudian antara waktu dengan detaknya sendiri. Karena pada detik ke sekian kita sadar bahwa penerimaan akan membuat kita merasa utuh jika sudah sepenuhnya. Amor Fati adalah sekuel kedua dari novel Kala.

Aku menyukai mereka berdua tanpa alasan. Aku mulai mengenal mereka pada pemesanan tahap pre-order, selalu. Entah kenapa, aku langsung jatuh cinta pada Kala dan periode berikutnya, aku berlanjut merasakan cinta yang sama pada Amor Fati. Mba Bella dan Kak Iid, paling bisa…
#KaLa #AmorFati #latteArt #coffee #cafelatte #HujanMimpi #StefaniBella #SyahidMuhammad #gradienmediatama #Saka #Lara

FOTO DOKUMENTASI PRIBADI (MENYUSUL, SOON!
P.S: Belum sempat mindahin foto.
____________________________________________
OK. Sampai ketemu di kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi berikutnya…
Bye bye, Coffee Lovers!


11. DUA PINTU DENGAN DUA SISI YANG BERBEDA

Hello, coffee lovers!
Mari menikmati kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi.
#CeritaTerry about: @duapintucoffee
____________________________________________

Dua pintu dengan dua sisi yang berbeda. Hanya masalah perbedaan. Bukankah perbedaan itu hal yang wajar? Hanya segelintir orang saja yang menganggap perbedaan itu suatu hal yang tidak wajar.

Di sini [klik tautan] di postingan di Instagramku @terryselvy, hanya masalah beda standar kewajaran. Hanya masalah beda cara pandang. Atau, melihat dari sudut padang yang berbeda akan ketidak samaannya. Semua punya sisinya yang berbeda atau justru sisi yang sama. Semua ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Begitu pula dengan slide gambar ke-2 pada postinganku di Instagram @terryselvy. Kata mereka, penampakan gambarnya kaya akan perbedaan. Kata ku, itu seperti “dua pintu dengan dua sisi yang berbeda”. Menyatu, menikmati kebersamaan dalam satu meja yang berlawanan.

Bukankah tidak semua orang terbiasa akan pahitnya kopi. Bukankah tidak semua orang suka akan manisnya coklat, atau asemnya jus.

Bukankah tidak semua orang suka akan buku, demen membaca dan menulis. Bukankah tidak semua orang sibuk dengan ponselnya, jago bermain games. Bukankah tidak semua orang punya hobby dan kebiasaan yang serupa?

Satu lagi, bukankah tidak semua orang terlahir berkulit agak terang atau justru berkulit agak gelap. Warna-warni kehidupan. Tidak boleh Body Shaming begitu, toh sesama ciptaan tuhan. Syukuri!

Nah, lagian, bukankah tidak semua orang makan dengan jenis makanan yang sama? Toh, perihal ini berkaitan dengan rasa dan selera. Mana yang bagi kita enak, itulah yang akan kita makan. Jadi, tidak perlu memaksakan orang lain menyamakan kesukaan makanannya dengan kita.

Lantas, mengapa kau meributkan perbedaan? 🙄
Atau justru sibuk mencari persamaan?

Beberapa orang, memilih berteman karena minat yang sama. Beberapa orang, memilih berteman karena keyakinan yang sama. Dan beberapa orang, memilih berteman karena kesamaan yang sama atau justru memilih berteman karena perbedaan yang berbeda. Tidak perlu di pusingkan.

FOTO DOKUMENTASI PRIBADI (MENYUSUL, SOON!
P.S: Belum sempat mindahin foto.

____________________________________________
OK. Sampai ketemu di kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi berikutnya…
Bye bye, Coffee Lovers 🙏

10. SEBUAH KE-ABSTRAK-AN

Hello, coffee lovers!
Mari menikmati kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi.
#CeritaTerry about: KOPI dan KEBAHAGIAAN abstrak
____________________________________________

__________________________
Di setiap tetesan kopi tersimpan sebuah aroma kebahagian.
P.S: kata mantan barista yang lagi duduk di depan aku tengah malam ini, Vicky.
__________________________


So, malam ini aku (mahasiswi), kakak (apoteker), dan seorang teman (mantan barista), kami berbeda namun lagi duduk akur di satu meja dari awal malam sampai dini hari ini. Kami bercerita, berdebat, dan berbagai banyak hal malam ini. Sembari ditemani seorang teman lagi yang enakan tidur pules di sofa samping meja kami. Awalnya beliau tidur di ruangan tamu, eh karena takut akhirnya pindah ke ruangan tengah tempat kami bercengkrama sampai malam. Haha~ ya di rumahku.

Obrolan berawal dari Kopi+Wine Soda/ganja, sampai pada sudah makan apa belum, sampai pada si penakut tidur sendiri yang pindah tidur, sampi pada kegalauan Wifi mati mendadak, sampai pada lagu galau, sampai pada pembahasan group yang selalu manggil “Terry” atau aku dengan sebutan Abang. Obat/racun? Sampai tanggal merah…

Oh iya, Selamat Natal #MarryChristmas (kala itu, 25 Desember 2018) buat Keluarga besarku. Buat Mama sekeluarga di Padang. Buat Maktuo sekeluarga di Tanjung.


Tetiba, malam malam malah curhat di story Whatsapp, debat kusir di meja bundar, upload foto lama ini plus dibubuhi caption ala-ala quotes kek orang-orang kebanyakan. Tetapi, tetap saja ada ceritanya dong, ya. #ceritaTerry

FOTO DOKUMENTASI PRIBADI (MENYUSUL, SOON!
P.S: Belum sempat mindahin foto.

____________________________________________
OK. Sampai ketemu di kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi berikutnya…
Bye bye, Coffee Lovers🙏

9. KENIKMATAN KOPI HITAM YANG DISEDUH SEDERHANA

Hello, coffee lovers!
Mari menikmati kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi.
#CeritaTerry about: Kopi Hitam pada saat Camping
____________________________________________

Di luar sana boleh ada manual brew, akan tetapi, bagi kami yang lagi camping di sini, untuk menikmati kopi hitam cukup di seduh sederhana dengan menuangkan langsung bubuk kopi hitam ke dalam air panas pada wadah didihanya yaitu nesting. GIMANE?

Eh, metode konyol macam apa ini 😂 Bukankah seharusnya kopi hitam diseduh sederhana dengan menuangkan air panas mendidih ke dalam bubuk kopi di dalam cangkir? Ah, bebas toh. Se-suka-suka kita mengistimewakannya. Malah ngeyel. Haha~

Tanpa sendok pengaduk
Tanpa cangkir yang memadai
Sesederhana kenikmatannya
Sesederhana tawa renyah kita
Ya, bebas. Jangan suka ngatur!

Adakah mampu kita menikmatinya,
jika tanpa campuran gula, susu, or cream?
Hayo~

FOTO DOKUMENTASI PRIBADI (MENYUSUL, SOON!
P.S: Belum sempat mindahin foto.

____________________________________________
OK. Sampai ketemu di kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi berikutnya…
Bye bye, Coffee Lovers 🙏

8. DEATH BEFORE DECAF

Hello, coffee lovers!
Mari menikmati kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi.
#CeritaTerry about: #decaf
____________________________________________

Decaf: Kopi Tanpa Kafein
WHY do you like DECAF?

Me: Aku tidak tau! Aku hanya meminumnya. Ada apa?

Sebenarnya tidak ada hubungan antara Decaf dengan cerita yang mau aku bagikan di bawah ini, sih. Tapi, aku ingin saja menghubungkannya. Kali aja nyambung, lalu nyaman dan saling mengerti, melengkapi, clop kan. Jadi deh, #eh. Malah ngeyel aku ya. So, Let Me Tell You A Story!

Mari aku ceritakan tentang temanku. Seseorang yang tidak menyukai kopi. Dia hampir tidak pernah minum yang namanya kopi, seumur hidupnya. Hingga ia berusia dua puluh tahun lebih. Aku kurang tau, lebih tepatnya dua puluh tahun berapa. Akan tetapi, sepengakuannya, dia tidak pernah menyukai kopi. Mulai dari dia tidak tahan akan aroma atau baunya, dia tidak suka rasanya, apalagi dia parnoan soal efeknya. Serta perintilan lainnya yang berbau kopi yang membuat dia enggan mencoba kopi.

Aku tidak pernah bertanya, dia punya kenangan jelek apa tentang kopi di masa lalunya. Aku juga tidak pernah begitu tau, perihal dia punya semacam trauma sejauh apa dengan si’kopi ini. Bahkan, aku juga tidak begitu paham kenapa dia tidak menyukai kopi dan tidak mau mencicipinya barang sekali saja. Apa ini bisa dikatakan semacam phobia?

Nanti, jika ada waktu atau saat mau konsul, lagi. Akan aku coba tanyakan sekalian perihal ini kepada psikologis ku. Semoga aku tidak lupa, nantinya. Haha~

FOTO DOKUMENTASI PRIBADI (MENYUSUL, SOON!
P.S: Belum sempat mindahin foto.

____________________________________________
OK. Sampai ketemu di kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi berikutnya…
Bye bye, Coffee Lovers 🙏

7. AFTER DARK = KOPI

Hello, coffee lovers!
Mari menikmati kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi.
#CeritaTerry about: @dapuekopi
____________________________________________

After Dark?
Hm. Mungkin itu cerita dibalik after dark versi @brian.khrisna (silakan baca pada buku terbaru beliau, This Is Why I Need You” chapter: After Dark). Bagaimana dengan cerita dibalik after dark versi aku? di @dapuekopi? Banyak. Salah satunya akan aku ceritakan kepadamu malam ini. So, Let Me Tell You A Story!

Beberapa hari yang lalu. Aku pernah dipanggil oleh seseorang karena suatu alasan. Kemudian kami ngobrol empat mata. Dari beberapa bahasan kami yang cukup Panjang X Lebar + Argumen-argumen yang membingungkan. Orang tersebut sempat melontarkan satu pertanyaan yang butuh pemahaman lebih kepadaku. Kurang lebih pertanyaannya seperti ini:

“Dek, Terry percaya nggak, kalau seseorang yang memiliki masalah buruk di masa lalunya, bisa berubah baik di masa yang akan datang?”

Aku terdiam sejenak sambil berfikir dengan tenang. Aku tau arah dan tujuan pertanyaan beliau ini tertuju kepada siapa. Hanya ada 2 objek yang sekiranya memiliki masa lalu yang beliau maksudkan. Yap, siapa lagi kalau bukan “DIA” atau justru hal ini merupakan curhatan beliau akan “dirinya sendiri”. Siapa lagi yang memiliki masa lalu yang kurang baik menurut cerita kita? Sejauh ini image aku sendiri masih bersih, kok. Lantaran siapa? Ah, kau tak perlu tau. Cukup aku, mereka dan Allah SWT yang tau. Siapa yang paling baik/buruk di hadapan-Nya. Aku sebagai manusiapun tidak berhak menghakimi sesama makhluk-Nya. Bukan wewenang ku, toh.

Kamu tau jawaban aku atas pertanyaan beliau? Ah, iya. Aku jawab secara Netral dari versi ku dan juga masih menjaga perasaan beliau.

Iya, Bang. Terry percaya, kok. Seseorang (orangnya or objeknya) bisa berubah menjadi baik di masa yang akan datang. Bukankah pintu tobat (perbaikan diri) terbuka untuk umum. Tapi, ingat! Buruknya kesalahan di masa lalu seseorang akan tetap (waktu tidak bisa di ulang ataupun diputar kembali ke masa lalu dan memperbaikinya), tidak mungkin tetiba dimaklumi baik hanya karena orangnya sudah baik. Mungkin sama halnya dengan memafkan gampang, tapi melupakan selupa-lupanya itu tidak gampang lho, ya

Lalu, beliau terdiam beberapa saat. Sebelum akhirnya melanjutkan obrolan kami ke bahasan berikutnya.

FOTO DOKUMENTASI PRIBADI (MENYUSUL, SOON!
P.S: Belum sempat mindahin foto.

____________________________________________
OK. Sampai ketemu di kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi berikutnya…
Bye bye, Coffee Lovers 🙏

6. “KEPOLOSAN-KU” TENTANG KOPI “LIAR”

Hello, coffee lovers!
Mari menikmati kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi.
#CeritaTerry about: @kopi_liar
____________________________________________

Me: “Latte Es 1 ya, Bang“, pintaku.
Abg: “Latte Original/Latte……, Kak?” Tanya si abang barista.
Me: “Original aja, Bang.” Potongku menjawab.
Abg: “Okay. Silakan duduk, Kak. Mau duduk di mana? Di sini bisa, di sana juga boleh“, si abang mempersilakan dengan menunjuk area sekitaran Box.
Me: “Dibungkus saja, Bang.” Pintaku sambil tersenyum.
Abg: “Baik. Ditunggu ya, Kak.” Kata si abang tersebut sambil melirikku dan beralih melirik ke bangku-bangku tinggi di depan box. Lalu, si abang barista mulai sibuk dengan pekerjaannya sambil sesekali masih tetap mengajak aku dan temanku mengobrol. Tentang beberapa hal secara acak.

Obrolan kamipun ditimpali beberapa pertanyaan yang secara sepihak tertuju kepadaku. Tidak hanya si abang baristanya yang bertanya dan mengajak aku mengobrol dengan ramah, akan tetapi si abang yang duduk pewe di sebelah box juga ikut nimbrung bertanya. Sepertinya beliau teman si abang barista, atau justru ownernya. Aku tidak sempat menanyakannya. Haha.

Sembari si abang memproses pesanan. Menimbang dan menakar biji kopi agar sesuai takaran di atas timbangan digital. Tetiba si abang menodongku dengan pertanyaan-pertanyaan seputar aku dan kopi. Kenapa aku suka kopi? Udah pernah nyobain apa saja? Aku tinggal di mana? Apa aku mahasiswa? Lalu, udah pernah nyoba kopi di mana saja? Porprov juga… Karena beliau tau aku area Unand. Sampai pertanyaan, apa aku udah pernah nyobain kopi di dapue kopi, Bengrass, Parewa, Dua pintu coffee, dan lainnya. BELUM!


Saat mau meng-upload gambar-gambar di atas, tadinya aku mau cerita perihal untuk yang pertama aku mampir ke sini, kopi liar. Mau cerita tentang random obrolan kami (aku, baristanya, dan seorang kawan), saat aku menunggu segelas Latte Es selesai dibikinkan. Akan tetapi, moodku untuk bercerita perihal ini sudah hilang 😑

BTW, sepertinya aku lebih tertarik bercerita tentang pertanyaan ngasalku tadi, “Apa beda Latte, Cappucino, dan Flat White?” Karena, beberapa tahun lalu aku juga pernah ditanyai pertanyaan seperti ini. Mau tau jawabannya versi admin Kopi Liar

SWIPE LEFT gambar di Instagramku (@terryselvy) sampai ke gambar bagian akhirnya ✌

Belakangan ini aku ketahui bahwa si Abang Barista kemarin adalah sekaligus Owner dari Kopi Liar ini. aku mengetahuinya lewat komentar dari seorang teman baikku, Abang Robby Julianda:
Sebenernya abang barista itu adalah ownernya yg berjuang mempertanggung jawabkan brand kedai kopinya, salluut lah sama barista yg satu ini. Motto dari kedai @kopi_liar ini yakni Kebebasan dalam kopi. Jdi ngopi yg sehat itu ga harus mahal 😃👌👌”, komentar beliau pada postinganku di Instagram malam itu.

Lalu, aku bales dengan bentuk kekaguman ku pada kopi liar dan pemiliknya:
“Wuah, baru tau aku kalau abang itu ownernya, bang @robbi_juwanda dikira abang yang banyak nanya-nanya sebelahnya 😹 Siap dah, mantap! 🙌 “

Tidak lama, postinganku via Story Instagram maupun via Feed Instagram mendapat notif Like dan Re-post dari akun Instagram Kopi Liar, Mlam itu juga^^

FOTO DOKUMENTASI PRIBADI (MENYUSUL, SOON!
P.S: Belum sempat mindahin foto.

____________________________________________
OK. Sampai ketemu di kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi berikutnya…
Bye bye, Coffee Lovers 🙏

5. Bacarito Tentang Kopi

Hello, coffee lovers!
Mari menikmati kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi.
#CeritaTerry about: @bacaritokopi.
____________________________________________

Bacarito tentang Kopi.

Jika orang-orang datang ke bar kopi or coffee shop bersama teman, kerabat, rekan atau pasangan mereka, untuk menikmati secangkir kopi dan beberapa cemilan. Sembari hang out di cafe modern dengan desain unik, nongkrong ala anak kekinian. Bacarito, berkeluh kesah, nge-rumpi, hingga ke pembahasan yang lebih serius lainnya. Atau hanya sekadar mengisi waktu luang, menikmati segala yang ditawarkan serta fasilitas di sana.

Aku pun demikian. Bedanya, setiap mampir ke bar or kedai kopi manapun baik di tempat awal aku pertama kali mengenal dan menyicipi kopi beberapa tahun yang lalu (kota B, T, & J). Hingga di tempat aku sekarang mengabaikan moment di @bacaritokopi. Aku lebih nyaman sendiri, walaupun aku datangnya ke @bacaritokopi. Lho, gimane ‘BACARITO’nya, Ter?

Hmm… Tidak perlu aku jawabkan ya.

Baiknya aku ‘Bacarito‘ saja via Caption di sini 😹
So, #LetMeTellYouAStory!

Dahulu banget aku adalah seorang introvert yang pemalu. Akan tetapi, aku selalu bisa ke mana-mana dan ngapa-ngapain sendiri dari esede. Lantas, 3 tahun terakhir ini, aku memiliki beberapa teman akrab. Salah satunya “Ipit“. Dia cewek, teman baik ku. Dia hampir selalu ada dan yang sering aku ajak menemani ku dalam segala hal. Tanpa banyak gimmik, Ba Bi Bu Be Bo. Mungkin karena hobby kami yang hampir sama.

Di awal tahun 2016, kebiasaan ini sempat tertunda karena aku pergi dari kota ini untuk melanjutkan semester kuliah ku di kota Istimewa, Jogja. Setelah kembali dari sana, kebiasaan ini tidak hilang begitu saja, lantas berlanjut.

Nah, hal inilah yang membuat kami tidak gabut or tidak kehabisan ide di setiap akhir pekan, waktu libur atau waktu-waktu senggang kuliah. Kamu sudah terbiasa menyambangi berbagai tempat nongkrong, tempat ngopi, hingga tempat makan. Dari emperan, kedai or warung pinggir jalan, cafe tengah kota yang unik, cafe pinggir kota yang klasik dan cafe-cafe modern sampai restoran biasa dan restoran hotel ternamapun kami icip-icip. Demi memenuhi rasa penasaran kami, sembari mengamati, mempelajari, dan tentunya tidak kami biarkan berlalu begitu saja. Sudah datang dan icip, sudah. OH, TENTU TIDAK!

Namun, beberapa bulan terakhir ini, aku kembali sendiri. WHY?
(Akan aku ceritakan suatu saat nanti)

FOTO DOKUMENTASI PRIBADI (MENYUSUL, SOON!
P.S: Belum sempat mindahin foto.

____________________________________________
OK. Sampai ketemu di kumpulan Cerita Terry (@terryselvy) dan secangkir kopi berikutnya…
Bye bye, Coffee Lovers 🙏

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai