Nah, karena keakraban itu, beliau pun akrab sama aku, buku-buku kakakku diturunkan ke belau, buku-buku belau diturunkan ke aku. Karena kami beda-beda tingkatan. Kakakku setingkat di atas beliau, dan aku setingkat di bawah beliau.
Saat mengingat banyak hal di masa lalu begini, tanpa sadar aku jadi tersenyum cukup lama kepada beliau saat pertemuan kemarin.
“Heh!”, jeda. Tampaknya beliau lagi berfikir untuk mengingat namaku. Tapi tampaknya gagal.
Beberapa detik kemudian… “Sendirian aja”, imbuhnya kikuk saat menyapa ku
“Hehe. Iya, Bang”, sahut ku tertawa canggung
“S****, ‘kan?”, tanya beliau tampak ragu. “Sama siapa S**** ke sini?”, tanya beliau, lagi.
“Sendirian, Bang”, jawabku kilat.
Bagaimana sih, kan beliau sudah nanya juga tadi (sendian aja). Tampaknya beliau benar-benar canggung karena lupa akan aku.
“Wuah, Abang pasti lu nih!” tuding ku.
“Mana pula Abang lupa”, elaknya.
“S****, ‘kan?”, tanya beliau lebih ke-meyakinkan dirinya sendiri.
Aku tidak menjawab.
Sebagai respon ku, aku hanya tertawa semakin keras. Ku lirik kakak manis berkerudung kuning yang sedari tadi berdiri di samping beliau, yang tampak hanya ekspresi kebingungan sekaligus penasaran. Pasti cewek manis nan beruntung ini pacarnya terka ku. Mengingat sekarang dia adalah seorang aparatur negara, sudah pasti tidak jomblo galau lagi, seperti yang aku kenal dahulu.
“Haha, sudah ya Bang. Aku pergi dulu, mau nyari buku nih”, alasan ku basa-basi untuk kabur.
“Sedih sekali, aku lagi-lagi terlupakan”, tuding ku lagi sambil mengejek beliau.
Aku pun melambaikan tangan sambil melangkah dan berbelok menjauh dari mereka.
“Iya, hati-hati T****”, akhirnya beliau menyebut depan namaku. “Titip salam buat kakakmu, ya” teriaknya saat aku sudah mulai menjauh, tapi masih bisa mendengar kalimat itu. Aku tersenyum.
“Akhirnya..”, gumamku.
Hari itu, aku lagi-lagi mengetahui kenyataan bahwa aku telah dilupakan.
Untuk yang kesekian kalinya kenyataan bahwa aku dengan cepat, dengan mudah terlupakan.
Bagiku sebenarnya tidak ada masalah dengan hal ini. Aku sudah terbiasa dilupakan. Entah itu dilupakan secara sengaja maupun tidak. Toh, bukan salah mereka juga. Hanya saja waktu kebersamaan yang kita, tak terasa begitu cepat berlalu, meninggalkan ku.
Mengenal ratusan hingga puluhan ribu. Ah, orang-orang baru, teman-teman baru, dengan kenangan yang baru pula. Tentunya memori kita tidak lagi sebaik sedia kala. Kenangan lama akan berangsur-angsur mengabur.
Terfokuskan pada jutaan kenangan baru yang terus terukir dan terajut, membentuk banyak anyaman baru. Sedikit demi sedikit jaringannya tertutupi bahkan tergantikan. Entah itu lebih baik atau lebih bahagia.
“Buset dah, ter-CURHAT aqutuh di mari… Wkwkk
Have a great day, Terry!
Next Chapter… #15
by @terryselvy

