View this post on InstagramA post shared by TERRY | #ceritaTERRY (@terryselvy) on
Waktu Adanya Dirimu#catatanseorangeha
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
A THREAD
24 Nov. 2019
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
at McD Padang
Aku
Kamu
Kamu dan Lompat Ilalang
Aku dan Mimpi Satu Hari
Kamu dan Sketsa Cinta
Aku dan Kamu Tak Berujung
Kamu Abadi dalam Aksara
Aku dan Luka Hari Jadi
Aku, Kamu dan Tetesan Darah
Aku Hidup Untukmu
Aku, Kamu dan Sebuah Titik
Epilog
[177]
Selalu membeli bubuk kopi favoritnya dan meracik sendiri setiap pagi. Hanya dia yang tahu berapa takaran air, berapa milliliter, berapa suhu yang tepat untuk menghasilkan aroma terbaik, berapa sendok bubuk kopi, berapa banyak bubuk krimmer dan berapa banyak susu yang dibutuhkan..
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
00.39 a.m
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
Mr.X: "Aku sudah sampai di Jakarta."
05.00 a.m
Ms.Y: "Syukurlah dirimu tidak hilang ditelan jarak. Aku selalu takut akan datangnya hari di mana aku membuka mataku dan dirimu tiada."
Mr.X: "Pagi, Ms.Y. (beserta sebuah Link youtube)"
Lelahkah?
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
Entah mana yang lebih melelahkan, pekerjaan yang yang tak berkesudahan ataukah rindu yang tak berujung?
"Berangkatlah jikalau memang harus berangkat tapi jangan lupa kembali"
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
Mr.X selalu mengingat kata-kata bak mantra yang selalu Ms.Y ucapkan setiap kali Mr.X harus melakukan perjalanan.
âťť…Di dalam hidup tidak semua orang harus menyukaimu. Terkadang kita semua sudah terbiasa menggunakan standar yang berbeda melihat orang lain dan memandang diri sendiri, sehingga acapkali kita menuntut orang dengan serius tetapi memperlakukan diri sendiri dengan penuh toleranâťž
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
quotes tentang rel:
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
"Tidak harus bersatu, selama kita bersama berdampingan, satu visi, satu misi, satu tujuan itu sudah cukup."
Tapi, kalau boleh jujur…
"Aku tak mau jika kau dan aku layaknya rel kereta api hanya berdampingan."
1 Agustus
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
Ms.Y: "X, buat dirimu kalau yang disebut 'pulang', ke mana?"
Mr.X: "Itu yang paling susah. Ehm, pulang ke rumah orang tua?"
Ms.Y: "Sayang, aku hanya meminta akulah 'pulang' bagi hatimu. Bagiku kau adalah kilau tanpa matahari" bisikku.
Tidak semua pikiran harus dinyatakan.
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
Ada hal-hal yang lebih baik tetap jadi rahasia dan misteri.
Bagiku, daripada bertanya lebih baik membiarkan dia bercerita sendiri saat dirasa sudah waktunya.
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
Lebih baik jujur apa adanya karena menyembunyikan sesuatu walaupun demi kebaikan sepertinya hanya sementara. Untuk jangka panjang, keterbukaan yang berbatas akan lebih langgeng.
âťťSebenarnya salah kalau orang-orang sering berkomentar hidup mereka layaknya film, tapi filmlah yang terinspirasi dari kisah hidup nyata.âťž
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
âťťSeandainya bisa kumemilih, aku ingin duduk diam mendengarkan ceritamu, aku ingin tahu apa yang meresahkan hatimu, aku ingin menyelami apa yang membangkitkan amarah di hatimu, aku ingin menggenggam tanganmu untuk menenangkanmu, aku ingin kau tahu bahwa aku tidak kemana-mana.âťž
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
âťťSaat ada dirimu, bagiku itulah yang terindah. Aku lebih suka berpetualang dengan ceritamu. Merasakan udara lewat embusan napasmu. Perlahan, seakan takut dihabisi dekat waktu. Menghirup matahari melalui kilau matamu. Hangat.âťž
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
Dipeluk dari belakang? Hangat.
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
Karena walaupun nalar ini tahu bahwa yang namanya hidup harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, tapi terkadang punggung lelah butuh tembok penyangga.
Eh, gimana?
Btw, ini sudah 17.01 WIB
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
(waktu Indonesia bagian Padang)
_
Ah, rupanya waktu telah sampai di pengunjung hari. Mimpi pun ada batasnya dan kini saatnya untuk terbangun.
Jejak kenangan yang tertoreh serasa menjadi bekal sebagai kekuatan untuk kembali pada realita.
Haha.
…terdiam tak ingin bertanya lebih lanjut.
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
Bukan hati ini tak ingin tahu tapi kata hati berisik tak perlu tahu hal-hal yang tidak diperlukan.
Semakin banyak kau tahu, maka kau akan semakin dalam terluka.
âťťTerima kasih… Untuk mimpi satu hariku. Berangkatlah! Dan, pulanglah kapan saja di saat hatimu ingin pulang. Tapi, jangan lupa ada satu yang selalu ingin menjadi kembali bagi hatimu.âťž
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
Bye!
Bagiku kau tidak pernah kemana-mana karena kau selalu tertera di retina hatiku.
âťťBukan kuingin waktu kembali dan bukan kuingin waktu berhenti. Aku hanya ingin waktu adanya dirimuâťž
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
Hm.
Aku suka setiap detik yang kuhabiskan untuk mendengar dirimu bercerita dengan jumlah kata yang dibatasi.
— Terry Selvy (@terryselvy) November 24, 2019
Sungguh lucu.
Apalagi yang hendak kau sembunyikan dariku? Sementara resah binar matamu tak mampu menutupi bahasa tubuhmu yang tenang.
Ssttt~


Sepertinya buku ini bagus banget
Itu belum baca semua padahal, baca spoiler-spoilernya aja ^^
SukaSuka