Kongkow bareng teman KSE

TERRY ITU PENDIAM, YA? After girl’s day out beberapa hari yang lalu. Sebut saja itu sebagai ajang temu kangen setelah lebih dari semingguan penuh tidak jumpa. Aku dengan perempuan satu-satunya yang kusebut cabat itu. Sekalian berbelanja kebutuhan bulanan kita-kita. Karena sudah masuk awal bulan kala itu. Sebagai anak kost yang menjunjung tinggi prinsip hidup hemat.Lanjutkan membaca “Kongkow bareng teman KSE”

Senja Dan Kenangan

Aku tidak pernah bisa mengerti, mengapa pemandangan ini selalu kembali dan kembali lagi: suatu pemandangan yang aku dapatkan ketika mentari beranjak pergi meninggalkan sejuta kenangan bersama senja di Jembatan Ampera. Pemandangan itu bagiku memilukan. Bukan hanya karena merasakan kembali dingin yang merasuk dan membekukan, kala berangsur menuju gelap malam. Tapi karena gagasan akan pemikiran yangLanjutkan membaca “Senja Dan Kenangan”

Bagian 24: Where Are we headed?

Dia mengambil barang bawaan dari tanganku. Dengan menampilkan seutas senyum penuh percaya diri, menjelaskan kepadaku secara rinci. “Main Basket 1 kali seminggu, latihan Boxing 2-3 kali seminggu, kadang latihan Muay Thai sama nge-gym juga, kalo sempat.” Jawabnya enteng. “Nggak ganggu kerjaan sama jadwal ngampus, apa……”, celetuk ku tertahan. Kemudian aku berpikir sejenak. “Mr.so’sibuk?”, lanjutku bertanyaLanjutkan membaca “Bagian 24: Where Are we headed?”

Bagian 23: Bury The Hatchet

Setelah beberapa menit mematung. Menjadi pengamat atas kelakuan sok rapi dia pada Story #22: You’re Late. Aku mulai bosen berdiri. Karena dari tadi aku sudah berdiri amat cukup lama. Maka, aku ber-inisiatif duluan untuk berdamai. Toh, apa yang terjadi sudah berlalu dan bukan kesalahan dia juga. Aku saja yang terlalu manja tidak ber-inisiatif untuk naikLanjutkan membaca “Bagian 23: Bury The Hatchet”

Bagian 22: You’re Late

Setelah kejadian pada story #21:Right Here Waiting for You. Beberapa jam kemudian… “Udah selesai? Sorry ya, lama nunggu. Tetiba, mendadak aku dipanggil sama dosen pembimbing tadi. Belum sempat ngabarin. Eh, ponselku lowbatt.” Sesalnya sedih dengan beberapa pernyataan beruntun sekaligus beberapa tarikan napas yang belum stabil, saat melihatku dengan wajah sedikit ditekuk. “Iya, gapapa. Kalem. AkuLanjutkan membaca “Bagian 22: You’re Late”

Bagian 21: Right Here Waiting for You

“Eer,, kenapa nggak aktif sih?”, gumamku. Terus memandangi keadaan di keluar. Aku sempat membayangkan bagaimana matahari siang yang begitu terik – panas membakar kulit orang-orang yang berkeliaran di luar sana. Dengan pemikiran demikian, aku memutuskan mengambil pilihan yang saat itu paling waras menurutku, dengan tetap berdiri di sini, di lobi sebuah toko yang tadi habisLanjutkan membaca “Bagian 21: Right Here Waiting for You”

bagian 20: After Midnight

Aku katakan di story #19 sebelum story ini, bahwa ‘Kali ini ada yang berbeda’, bukan? Yap, persis dugaanmu. Jendral! Bukan hanya berbeda karena tengah malamnya. Bukan juga berbeda karena ada dia yang ikutan makan tengah malam juga. Tetapi, berbeda karena dia yang memasak bukan aku, bukan kakak, bukan papa, bukan juga seperti yang biasa atauLanjutkan membaca “bagian 20: After Midnight”

bagian 19: I Love A Rainy Night

Tik Tok…Tik Tok…Tik Tok…Suara hujan di atas genteng 😅✌ Setelah sekian lama dan sempat menunda bagian #18 juga kemarin dan sekarang bagian #18 juga belum kunjung aku edit lagi, kita skip dan lanjut kebagian ini saja ya… (lebay dikit, nih aku). But, sekarang aku kembali update. Tak ada yang begitu berarti yang ingin aku sampaikanLanjutkan membaca “bagian 19: I Love A Rainy Night”

bagian 17: The Corner

Setelah membayar untuk ‘1 buah donat Cheesecake licious + 1 Cafe Latte size Uno’ aku bergegas meninggalkan kasir sembari menenteng barang belanjaan yang dari Ggramedia tadi di tangan kiri plus di tangan kanan sebuah piring kecil yang berisi 1 donat Cheesecakelicious yang aku pesan. Aku mengedarkan pandanganku menyapu seluruh isi ruangan, mencari meja yang kosongLanjutkan membaca “bagian 17: The Corner”

bagian 16: Cheesecakelicious

Singkat cerita, beberapa menit setelah memesan kendaraan online. Akupun tiba di sebuah mall di pusat kotaku. Aku langsung masuk ke dalam, berjalan ke arah salah satu tempat yang ingin aku tuju.  J.Co Donuts and coffee shop yang cukup nyaman untuk bersantai, juga sebagai tempat pelarian ku dalam mengurai waktu hingga hujan mereda. Gerai ini beradaLanjutkan membaca “bagian 16: Cheesecakelicious”

BAGIAN 15: Miserable Weather

Keluar dari Gramedia. Aku sedikit dikagetkan dengan suasana di luar. Tampak cuaca yang tidak bersahabat. Angin kencang, udara yang menusuk dingin, dan hujan. Guyuran hujan yang cukup deras memaksa ku untuk mengurungkan langkah meninggalkan gedung Gramedia. Aku tidak mungkin melanjutkan langkah ku untuk pulang ke rumah. Bahkan kendaraan pun aku tidak punya. Mau merepotkan siapa?Lanjutkan membaca “BAGIAN 15: Miserable Weather”

BAGIAN 14: Have You Forgotten

Nah, karena keakraban itu, beliau pun akrab sama aku, buku-buku kakakku diturunkan ke belau, buku-buku belau diturunkan ke aku. Karena kami beda-beda tingkatan. Kakakku setingkat di atas beliau, dan aku setingkat di bawah beliau. Saat mengingat banyak hal di masa lalu begini, tanpa sadar aku jadi tersenyum cukup lama kepada beliau saat pertemuan kemarin. “Heh!”,Lanjutkan membaca “BAGIAN 14: Have You Forgotten”

Bagian 13: Dia, Seniorku.

Sesampai di lantai 2, aku menjelajahi blok per blok, menyapukan pandangan mata sekilas judul-judul buku yang aku lewati. Lantai dua memang berisikan buku-buku penting dan untuk kepentingannya sendiri. “Hm, belum ada”, guman ku. Dari beberapa bulan yang lalu, setiap mengunjungi toko buku aku selalu menyempatkan diri untuk mencari sebuah buku. ‘Somewhere Only We Know’ karyaLanjutkan membaca “Bagian 13: Dia, Seniorku.”

Bagian 12: Stuck With Me

Aku bergegas turun meninggalkan kenyamanan duduk di dalam mobil itu. Sembari mengayunakan kaki kiri mundur selangkah demi selangkah menjauh. Kemudian tersenyum sumringah, sambil melambaikan tangan ke arah pengemudi yang mana sudah berbaik hati mengantarkan ku disela-sela kesibukannya. “Daahh, H-a-t-i-h-a-t-i!“ Dia memperingati ku dengan nada penuh penekanan. “Selamat bersenang-senang! Aku duluan”, imbuhnya berteriak kemudian tersenyum sambilLanjutkan membaca “Bagian 12: Stuck With Me”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai