bagian 20: After Midnight

Aku katakan di story #19 sebelum story ini, bahwa ‘Kali ini ada yang berbeda’, bukan?

Yap, persis dugaanmu. Jendral!

Bukan hanya berbeda karena tengah malamnya. Bukan juga berbeda karena ada dia yang ikutan makan tengah malam juga. Tetapi, berbeda karena dia yang memasak bukan aku, bukan kakak, bukan papa, bukan juga seperti yang biasa atau lauk-pauk di beli, di pesan or lainnya.

Namun, dimasakan oleh seseorang yang mampir, bertandang, dalam rangka tanpa acara khusus apapun. Katanya sih, Dia lagi tidak ada kerjaan, tidak ada kesibukan, selaw bingit, dan katanya lagi dia juga bosen di rumah sendirian karena keluarganya yang punya kesibukan masing-masing yang aku juga tau itu.

Singkat cerita. Dia datang ke rumah kami. Lalu mereka, dia dan papa berdiskusi ringan tentang banyak hal yang tidak begitu aku tau. Plus berlanjut dengan nobar acara TV yang “se-hobby mereka” sampai menjelang tengah malam tadi, tentunya dengan papaku.

Setelah acara di TV berakhir dengan adanya pemenang. Mereka berdua tampaknya mulai kelaparan, akupun demikian. Alih-alih pulang ke rumah, dia bukanya berpamitan sama papa dan kami untuk pulang. Justru dia malah menanyaiku seputar hidangan yang bisa kami masak malam itu juga.

Jadilah kami mengacak-acak isi freeze. Googling beberapa resep masakan yang mungkin bisa kami masak, dan bahannya tersedia kala itu. Akhirnya dengan keahlian memasak dia yang selama ini aku ragukan, dan dengan keahlian memasakku yang aku sendiri sadar betul kalau aku masih jauh dari kata ahli itu sendiri.

Maka terciptalah hidangan yang cukup sempurna. Kaget? Oh, tentu tidak. Untuk hal ini pun, sekali lagi aku katakan. Aku percaya dia.

Tampaknya hingga sekarang, aku terlalu banyak percaya dia. Apa tidak apa-apa? Entahlah. Semoga suatu hari nanti aku baik-baik saja. Lupakan! Aku hanya bercanda di bagian ini.

Sekarang, lagi-lagi,, Dia hanyalah tamu. Seorang tamu tak diundang. Seseorang yang selalu menggagap rumah ini sebagai rumah bagi dia juga. Bahkan dia lah yang memasak hidangan ini untuk kemudian kami makan malam (makan tengah malam) bersama sebelum akhirnya beliau harus pamitan untuk pulang juga. Haha…
บู้ววววว ~
555555 ~

Btw, aku ada videoin pas kami masak juga, lho! Eh, pas dia masak maksudnya 😉
Aku juga ikut kok masak, bantuin gitu.

Next Chapter… #21
by @terryselvy

bagian 19: I Love A Rainy Night

Tik Tok…
Tik Tok…
Tik Tok…
Suara hujan di atas genteng 😅✌

Setelah sekian lama dan sempat menunda bagian #18 juga kemarin dan sekarang bagian #18 juga belum kunjung aku edit lagi, kita skip dan lanjut kebagian ini saja ya… (lebay dikit, nih aku). But, sekarang aku kembali update.

Tak ada yang begitu berarti yang ingin aku sampaikan tengah malam begini 1.49 am. Tapi, aku kembali memposting story 🤗

Something to tell you!

Happy Midnight!
(Aku mengetik ini beberapa menit sebelum nge-publish 01.05 WIB). Tepatnya sudah 1 jam berlalu dari acara makan malam kami tadi (bukan dinner romantic atau dinner ala orang-orang gitu, but I mean makan tengah malam) dan aku masih di halaman ini. Mengetik sesuatu yang tak penting. Maaf 🙌

“Apa kabar readers? malam ini? Atau keadaan saat membaca story ini saja. Apa kabarmu?”, sapaku untuk kalian yang sedang membaca.

Aku? Baik.
Dia, juga baik.

Tetapi, di luar tampaknya sedang hujan. Suaranya begitu deras, sampai nyaring terdengar ke telingaku. Suara peraduan denting bukir-bulir air hujan dengan atap di atas sana, begitu berisik mengusik malam ini.

Di selingi hembusan angin malam yang masuk menelusup di antara celah-celah jendela, mengibaskan tirai-tirai tinggi penutup jendela kaca menampakan gelapnya malam di luaran sana. Sesekali terlihat kilatan cahaya yang kemudian diikuti gemuruh petir menggelegar, seakan menyambar. Membuat ku takut…

Aku baik-baik saja. Sekarang, aku lagi istirahat dengan menikmati hangatnya selimut dari kenyamanan duduk di atas sofa kecil yang terletak tepat menghadapi jendela, di sudut kamarku.

Sembari mengetik tulisan ini, di sini, via ponsel papaku. Karena ponsel ku lagi lowbatt, terpaksa harus di cas dulu.

Eit, ini bukan tentang ponsel yang ingin aku ceritakan. Tetapi tentang sesuatu yang menarik malam ini. You know? Him…

1 atau 2 jam sebelum tulisan ini aku posting. Tadinya. Aku katakan di atas ‘kan? Ada acara makan malam (again,, makan tengah malam maksudku)

Kali ini ada yang berbeda.

Ya, di makan malam kali ini ada yang berbeda.
NEXT story ya…

Next Chapter… #20
by @terryselvy

bagian 17: The Corner

Setelah membayar untuk ‘1 buah donat Cheesecake licious + 1 Cafe Latte size Uno’ aku bergegas meninggalkan kasir sembari menenteng barang belanjaan yang dari Ggramedia tadi di tangan kiri plus di tangan kanan sebuah piring kecil yang berisi 1 donat Cheesecakelicious yang aku pesan.

Aku mengedarkan pandanganku menyapu seluruh isi ruangan, mencari meja yang kosong dengan suasana yang nyaman sesuai kebiasaan ku. Karena lagi ramai pengunjung, tidak banyak meja yang tersisa kosong. Baik di area dalam maupun di area luar ruangan, hampir setiap meja ada yang menempati.

Begitu pandanganku tertuju ke pojok ruangan, ternyata ada 1 meja tinggi dengan 2 kursi yang juga tinggi, terlihat kosong. Di atasnya ada 1 lampu neon yang cukup rendah dengan kerangka-kerangka hiasan yang cantik sebagai penerangan. Di sisi kanan ada jendela kaca yang besar dan tinggi, sebagai pembatas area dalam dan luar ruangan, area yang menghadap ke halaman mall.

‘Tempat yang cukup nyaman’ pikirku.

Aku paling suka memilih duduk di pojokan. Karena akan terasa sedikit lebih privacy dari pada tempat-tempat duduk di posisi strategis lainnya. Alasan lainnya, aku tidak akan menjadi pusat perhatian banyak orang, karena duduk sendirian. Aku juga bebas, bisa mengamati area 180° baik di sisi kanan area dalam ruangan maupun di sisi kiri area luar ruangan plus halaman mall, yang cukup ramai pengunjung. Aku juga bisa berlama-lama semau ku karena tidak akan begitu menarik perhatian. Dan, yang terpenting, tidak akan ada yang mengamati maupun mengganggu ku di sini.

Aku segera melangkah ke meja itu. Duduk di kursi tinggi yang membelakangi dinding. Benar-benar cukup nyaman.
Beberapa menit kemudian…

Cafe Latte size Uno pesanan ku datang. Tapi… (kok jadi size Due?)

Diantar langsung pake baki yang berisi ‘1 cangkir Cafe Latte size Due + 1 glazzy donut bonusnya’ oleh baristanya yang tadi juga menjadi kasir saat aku memesannya.

Sesampai di seberang mejaku, baristanya tersenyum ramah sambil menyajikan kopi pesananku plus tambahan donat gratis ke atas meja.

“Terima kasih, kak.” kataku sambil tersenyum. Tetiba, tatapan ku beralih fokus ke piring berwarna merah yang berfungsi sebagai penadah kopi. Sedikit berantakan, dengan tumpahan kopi. Kok bisa?

Next Chapter… #18
by @terryselvy

bagian 16: Cheesecakelicious

Singkat cerita, beberapa menit setelah memesan kendaraan online. Akupun tiba di sebuah mall di pusat kotaku. Aku langsung masuk ke dalam, berjalan ke arah salah satu tempat yang ingin aku tuju.  J.Co Donuts and coffee shop yang cukup nyaman untuk bersantai, juga sebagai tempat pelarian ku dalam mengurai waktu hingga hujan mereda.

Gerai ini berada tepat di pojokan mall. Aku cukup sering ke sini. Untuk sekedar ngopi di kala aku menunggu giliran jam tayang sebuah film. Untuk memperoleh beberapa donuts disaat ada teman-temanku yang mau main ke rumah. Atau hanya sekedar jadi tempat hangouts untuk bertemu teman-teman, ngobrol-in beberapa hal dan menghabiskan waktu. Jadi tidak terlalu sulit untuk menemukan tempat ini.

Tanpa sadar aku sudah berada di ambang pintu masuk. Ku lirikan pandanganku ke dalam ruangan, penampakan yang cukup mengkhawatirkan. Apa lagi… kalau bukan keramaian, antrian panjang, dan meja-meja yang dipenuhi pengunjung dari yang berpasangan hingga beramai-ramai group.

“Huff, ramai banget. Apa-apaan ini antriannya”, gumam ku menarik napas yang terasa berat.

Kuputuskan untuk memesan secangkir kopi terlebih dahulu. Karena antrian di kasir 2 (kopi) tampak kosong, sementara antrian di kasir 1 (donuts) sebaliknya, bajibun.

“Ada yang bisa di bantu kak, mau memesan apa?”.

Kurang lebih seperti itu sambutan ramah di bareng sebuah senyuman tulus dari si’Abang yang berada belakang kasir. Melihat dari pakaiannya, aku tau dia bukan seorang kasir yang biasanya melayani ku, melainkan seorang barista.

“Hot Cafe Latte yang kecil (Uno) 1, kak” kataku sembari tersenyum.

“Itu aja, kak? Ada tambahan lagi?”, tanya dia menawariku.

“Hm…”, aku berfikir sejenak.

“Boleh minta tolong nggak, kak. Mau donatnya satu ya?”, kataku pelan, lalu melirik ke samping tempat antrian panjang di depan etalase donuts berada.

“Haha, boleh kak. Satu banget nih donatnya? Mau rasa apa kak?”, tanya dia sembari tertawa kecil yang terdengar seperti mengejek bagiku. Apa yang salah dengan ‘satu banget’ ini.

“Iya, kak. Cheesecakelicious aja“, jawabku santai.

“Tunggu bentar ya kak, di ambilin dulu”, katanya sembari berlalu mengambil piring kecil dan 1 buah donat pesananku.

Next Chapter… #17
by @terryselvy

BAGIAN 15: Miserable Weather

Keluar dari Gramedia. Aku sedikit dikagetkan dengan suasana di luar. Tampak cuaca yang tidak bersahabat. Angin kencang, udara yang menusuk dingin, dan hujan. Guyuran hujan yang cukup deras memaksa ku untuk mengurungkan langkah meninggalkan gedung Gramedia.

Aku tidak mungkin melanjutkan langkah ku untuk pulang ke rumah. Bahkan kendaraan pun aku tidak punya. Mau merepotkan siapa? Toh, aku tidak punya banyak teman yang care. Dia juga lagi sibuk latihan.

Memesan kendaran online (car) pada cuaca buruk (jika urgent) ini salah pilihan yang tepat, tapi… Lagi-lagi ini bukanlah keadaan Yang darurat. Tidak memungkinkan, karena satu dan beberapa alasan klise lainnya.

Namun, aku tidak mungkin berbalik, masuk ke dalam gedung Gramedia. Apa yang aku butuhkan telah ada di tanganku. Lagian di dalam cukup membosankan. Sebagai seseorang yang tidak begitu menyukai keramaian, keadaan di dalam Granedia sore itu sudah cukup membuatku merasa pusing. Berada lama di antara ratusan pengunjung yang memenuhi setiap sudut di setiap lantainya. Energiku seperti terserap habis dengan cepat, membuatku merasa lelah dan lemas dalam puluhan menit saja.

Bagaimana pun, aku tidak mungkin menunggu hujan hingga reda. Berdiri sendirian di lobby begini, bukanlah pilihan yang tepat. Lobby yang begitu sepi, tidak ada tempat duduk, dan udara luar yang begitu dingin langsung terasa menyapu kulit. Jika hujan nya bertahan cukup lama, bisa saja saat kembali aku akan terserang deman.

Belum tampak tanda-tanda hujan mau reda, atau berhenti dalam waktu dekat.

“Bagaimana caranya agar aku bisa pulang?” rutukku dalam hati.

Aku bukannya tidak menyukai hujan, tetapi terjebak oleh hujan dalam suasana yang tidak mendukung begini, membuatku sedikit kesal.

Aku mulai memikirkan alternatif lain. Apa ya, kira-kira yang bisa aku lakukan? Atau mau menghabiskan waktu di mana ya sembari menunggu hujan reda?

Nah, tetiba aku ingat. Gramedia ‘kan berada di pusat kota. Banyak tempat yang cukup nyaman di dekat sini. Tapi, ke mana? Yang dekat banget sih enggak ada.

“Apa aku nyari tempat nongkrong aja kali ya?”, gumam ku sembari mengingat tempat ngopi terdekat. J.Co Plaza Andalas (PA), sih pikirku.

Next Chapter… #16
by @terryselvy

BAGIAN 14: Have You Forgotten

Nah, karena keakraban itu, beliau pun akrab sama aku, buku-buku kakakku diturunkan ke belau, buku-buku belau diturunkan ke aku. Karena kami beda-beda tingkatan. Kakakku setingkat di atas beliau, dan aku setingkat di bawah beliau.

Saat mengingat banyak hal di masa lalu begini, tanpa sadar aku jadi tersenyum cukup lama kepada beliau saat pertemuan kemarin.

“Heh!”, jeda. Tampaknya beliau lagi berfikir untuk mengingat namaku. Tapi tampaknya gagal.

Beberapa detik kemudian… “Sendirian aja”, imbuhnya kikuk saat menyapa ku

“Hehe. Iya, Bang”, sahut ku tertawa canggung

“S****, ‘kan?”, tanya beliau tampak ragu. “Sama siapa S**** ke sini?”, tanya beliau, lagi.

“Sendirian, Bang”, jawabku kilat.
Bagaimana sih, kan beliau sudah nanya juga tadi (sendian aja). Tampaknya beliau benar-benar canggung karena lupa akan aku.

“Wuah, Abang pasti lu nih!” tuding ku.

“Mana pula Abang lupa”, elaknya.
“S****, ‘kan?”, tanya beliau lebih ke-meyakinkan dirinya sendiri.

Aku tidak menjawab.
Sebagai respon ku, aku hanya tertawa semakin keras. Ku lirik kakak manis berkerudung kuning yang sedari tadi berdiri di samping beliau, yang tampak hanya ekspresi kebingungan sekaligus penasaran. Pasti cewek manis nan beruntung ini pacarnya terka ku. Mengingat sekarang dia adalah seorang aparatur negara, sudah pasti tidak jomblo galau lagi, seperti yang aku kenal dahulu.

“Haha, sudah ya Bang. Aku pergi dulu, mau nyari buku nih”, alasan ku basa-basi untuk kabur.

“Sedih sekali, aku lagi-lagi terlupakan”, tuding ku lagi sambil mengejek beliau.

Aku pun melambaikan tangan sambil melangkah dan berbelok menjauh dari mereka.

“Iya, hati-hati T****”, akhirnya beliau menyebut depan namaku. “Titip salam buat kakakmu, ya” teriaknya saat aku sudah mulai menjauh, tapi masih bisa mendengar kalimat itu. Aku tersenyum.

“Akhirnya..”, gumamku.

Hari itu, aku lagi-lagi mengetahui kenyataan bahwa aku telah dilupakan.

Untuk yang kesekian kalinya kenyataan bahwa aku dengan cepat, dengan mudah terlupakan.

Bagiku sebenarnya tidak ada masalah dengan hal ini. Aku sudah terbiasa dilupakan. Entah itu dilupakan secara sengaja maupun tidak. Toh, bukan salah mereka juga. Hanya saja waktu kebersamaan yang kita, tak terasa begitu cepat berlalu, meninggalkan ku.

Mengenal ratusan hingga puluhan ribu. Ah, orang-orang baru, teman-teman baru, dengan kenangan yang baru pula. Tentunya memori kita tidak lagi sebaik sedia kala. Kenangan lama akan berangsur-angsur mengabur.

Terfokuskan pada jutaan kenangan baru yang terus terukir dan terajut, membentuk banyak anyaman baru. Sedikit demi sedikit jaringannya tertutupi bahkan tergantikan. Entah itu lebih baik atau lebih bahagia.

“Buset dah, ter-CURHAT aqutuh di mari… Wkwkk
Have a great day, Terry!

Next Chapter… #15
by @terryselvy

Bagian 13: Dia, Seniorku.

Sesampai di lantai 2, aku menjelajahi blok per blok, menyapukan pandangan mata sekilas judul-judul buku yang aku lewati. Lantai dua memang berisikan buku-buku penting dan untuk kepentingannya sendiri.

“Hm, belum ada”, guman ku.

Dari beberapa bulan yang lalu, setiap mengunjungi toko buku aku selalu menyempatkan diri untuk mencari sebuah buku. ‘Somewhere Only We Know’ karya Alexander Thian (@aMrazing). Mungkin banyak dari teman-teman yang sudah sangat akrab dengan nama beliau.

Disaat aku terus berjalan, dan sementara mataku asyik mengamati buku bersampul orange yang berjejer di sebelah komputer searching Gramedia. Tetiba, aku kaget karena hampir menabrak sepasang pengunjung lainnya.

Ternyata salah seorang di antara pasangan yang hampir saja aku tabrak, pria itu. Beliau adalah seniorku. Tidak hanya sebagai seniorku 3 tahun semasa di bangku SMA, tetapi beliau juga seniorku saat awal-awal aku menjadi Maba (Mahasiswa Baru) di Universitas.

Selain itu, dulu kami mengenal satu sama lainnya dengan baik. Bahkan beliau yang menyarankan aku untuk ambil masuk asrama kala itu (yang notabennya aku bukan mahasiswa BM (non-BidiMisi), juga bukan lulusan SNMPTN). Setelah menjadi salah satu mahasiswa asrama (Asrama Hijau lantai 2B), beliau juga yang menyarankan aku untuk ikut andil dan belajar aktif ber-organisasi, kala itu menyuruhku untuk ikut Asosiasi Mahasiswa Asrama (AMA) saat ada open recruitment.

Beliau juga tempat bertanyaku dan yang membantu aku dalam mengisi beberapa bagian dari form formulir dan beberapa persyaratannya, termasuk mengajariku untuk persiapan wawancara dengan pembina asrama. Tentunya beliau tau betul akan hal ini, karena beliaulah ketua AMA saat kami OR.

Berawal dari beliau senior dan anggota aktif Pramuka di SMA-ku. Beliau juga teman akrab dari salah satu kakakku, dan pernah beberapa kali main ke rumah bareng Abang Arif. Saat musim rambutan, saat mengambil kembali jacket yang beliau pinjamkan dan telah dicuci olah kakakku.

Singkatnya, beliau-Kakakku sangat akrab. Kakakku sudah seperti kakak sendiri bagi beliau begitu pun sebaliknya. Bahkan masalah ke-galau-an perkara cinta monyet beliau saja, kakakku sampai ikut pusing mikirinnya.

Nah, karena keakraban itu, beliau pun akrab dengan aku, buku-buku kakakku diturunkan ke-beliau, buku-buku beliau diturunkan ke-aku. Karena kami beda-beda tingkatan. Kakakku setingkat di atas beliau, dan aku setingkat di bawah beliau.

Next Chapter… #14
by @terryselvy

Bagian 12: Stuck With Me

Aku bergegas turun meninggalkan kenyamanan duduk di dalam mobil itu. Sembari mengayunakan kaki kiri mundur selangkah demi selangkah menjauh.

Kemudian tersenyum sumringah, sambil melambaikan tangan ke arah pengemudi yang mana sudah berbaik hati mengantarkan ku disela-sela kesibukannya.

“Daahh, H-a-t-i-h-a-t-i!

Dia memperingati ku dengan nada penuh penekanan.

“Selamat bersenang-senang! Aku duluan”, imbuhnya berteriak kemudian tersenyum sambil melambaikan sebelah tangannya ke arahku. Sebelah lagi tetap berada di setir kemudi.

“Yo’i bro, siap”, jawabku patuh, lalu menganggukkan kepala.

“Dahh, S-a-****!”. Teriakan berikut ini tertahan di tenggorokan.

Seketika denyut jantungku tak beraturan, sepertinya ada rasa (entah apa itu) yang semakin menusuk tepat di hulu hatiku… TAP! Aku kembali mengubah ekspresiku, menampilkan senyum getir, aku membalas lambaian tangannya. (2x dehh aku melambaikan tangan🙋‍♀️)

Aku menatap ekor mobil itu melaju hingga jauh, menghilang hingga tak terlihat saat ditelan jarak.

Tersadar kembali di mana tempat aku berdiri sekarang. Aku bergegas memutar badan, melangkah memasuki pintu depan Gramedia yang disambut hangat oleh sebuah senyuman serta ucapan selamat datang dari si’kakak cantik yang berdiri persis di sisi kiri pintu.

Aku membalas senyumnya sambil berlalu masuk, menuju tempat-tempat di mana tersedia barang-barang dari buckets list yang telah aku tulis berada. Tidak butuh waktu terlalu lama bagiku untuk menemukan apa yang aku butuhkan, satu persatu aku masukan ke tempat yang disiduakan.

Beberapa puluh menit kemudian, aku sudah berada di baris antrian menuju kasir di lantai itu, lantai 1 Gramedia.

“Kak, ada kartu member?” tanya kakak cantik dibelakang kasir.

Tanpa menjawab, aku menyodorkan my member card, disusul dengan uang tunai.

Barang-barang hasil belanjaan tersebut aku titipkan di tempat penitipan yang disediakan Gramedia, di bagian pojok arah belakang. Karena aku mau ke lantai 2 atau bahkan ke lantai 3 sekalian.

Aku mau mengecek beberapa buku, mungkin saja ada yang baru atau yang bisa menarik perhatianku. Berhubungan buku-buku yang aku punya sudah kelar dibaca.

Selamat ber-Hunting buku-buku, Terry!

Next Chapter… #13
by @terryselvy

Bagian 11: Siap! Bosque.

Aku sangat hafal jadwal latihan dia dari jam 4 sore hingga menjelang magrib, baru bubar (karena aku juga pernah menjadi salah satu atlet di sana). Tidak mungkin aku minta dijemput atau justru harus menunggu selama itu, yang ada aku kebosanan jika harus menelusuri setiap sudut Gramedia sekitar 2 jam lebih. Tidak mungkin juga aku menyusul dia ke tempat latihan tanpa diminta, itu bukan tipe-ku.

Maka ku putuskan nanti pulangnya naik kendaraan online saja. Toh, go-pay ku masih banyak tersisa, karena akhir-akhir ini aku sering keluar diantarin dia. Masih berasa kayak anak kecil aja. Mengingatnya membuatku senyum-senyum sendiri. lumayan hemat nih, pikirku.

“Siip. Hati-hati nyebrang. Jangan terlalu lama di gramed, kamu sendiri lho. (Jeda…) Ntar minta anterin sampai depan pagar ya sama kendaraan onlinenya. Langsung pulang! Hm, sama satu lagi. Jangan lupa makan ntar begitu nyampe rumah. Bilangin sama papa aku enggak bisa nganterin, ada latihan”, Titahnya padaku penuh wejangan nan beruntun.

“iya, siap Bosque…”, jawabku sambil mengangkat tangan ala ‘salam lestarinya Bung Fiersa Besari‘. Sebuah senyum mengembang di wajahku. Kemudian kami terkekeh-kekeh kecil.

Kendaraan kami melaju menelusuri jalanan kompleks, berbelok ke jalan utama, bergabung dengan kendaraan lainnya.

Diantara kami hanya hening, tanpa obrolan. Tanpa suara games maupun notif pesan di ponsel. Tanpa musik yang mengalun seperti saat kami pulang tadi. Tanpa klakson yang berarti (Yes, tidak ada macet tentunya). Dia fokus menyetir dengan pandangan lurus ke depan. Aku fokus memperhatikan jalanan, mobil-motor di sisi-sisi kiri-kanan kami, taman kota, pejalan kaki dan setiap gedung-bangunan yang kami lewati. Rasanya aku begitu bahagian, dan tidak pernah bosan tinggal di kota kecil ini.

Tidak terasa, berapa puluh-menit kemudian kami sudah sampai tepat di depan gramedia satu-satunya yang ada di kotaku. Kapan dia mutarnya, pikirku heran.

Aku bergegas turun, tersenyum sumringah, sambil melambaikan tangan ke arah pengemudi yang sudah berbaik hati mengantarkan ku disela-sela kesibukannya.

“Daaahhh, Sa****!”. Teriak ku dalam hati.

Have a great day, Terry

Next Chapter… #12
by @terryselvy

Bagian 10: Forgotten

Sesampai di rumah, aku memilih turun duluan meninggalkannya biar membawa tas kami. Aku mendahuluinya untuk masuk duluan karena di luar terasa sangat panas.

Menghempaskan tubuhku duduk di sofa ruangan tamu, sambil terus memainkan games di ponselku. Sesekali aku menggeram kesal saat kalah. Tampa sadar dia sudah berdiri di depanku. Menatapku datar, sedetik kemudian dia melemparkan tasku yang ada di tangannya ke arah sofa tepat di sampingku.

Hei, tiati!” kagetku spontan.

Mau minum?” alisnya terangkat sebelah.
atau kalo laper ambil sendiri di belakang. Orang-orang masih di luar. Aku ganti baju, siap-siap dulu“, lanjutnya sambil berlalu meninggalkan ku. Dia terus melangkah menaiki tangga menuju atas, tentu saja kamarnya.

Yap. Tau! Ucapku dalam hati.

Bagaimana aku bisa lupa. Tanpa diingatkan pun aku sudah terbiasa di rumah itu seperti rumahku sendiri. Mau apa-apa ya tinggal langsung saja semauku kalau tidak ada orang, kalau pun ada orang palingan aku juga bakal disuruh ambil sendiri. Orang aku-nya udah jadi kayak anak bontot di keluarga itu.

Selang hampir 1 jam, kemudian…

Yuk, berangkat.” suaranya mengagetkan ku yang kini sedang asyik menonton TV.
Lah, kok nggak ganti baju?” dibarengi tatapan heran dari wajah flatnya.

Lah, aku cuman mau ke gramed (Gramedia) doang kok“.

Aku meraih remot diatas meja. Menekan tombol off untuk mematikan TV. Meraih tas di sampingku dan menentengnya. Lalu berdiri. Merapikan lipatan dan ujung kemejaku sambil tersenyum ke arahnya.

Oh yaudah, Makan nggak jadi?

Enggak laper. Ntar aja pas balik” jawabku enteng.
Kalo kamu laper, sana makan dulu. ‘Kan kamu yang mau latihan“, lanjutku meningatkan.

Enggak usah… Yuklah langsung” katanya sambil menyodorkan tas atlet nike sporty nya ke arahku.

Aku antar sampai depan gramed ‘kan?” tegasnya sambil berlalu melewatiku.

Ho.oh, nanti aku bisa pulang sendiri kok” kataku sambil melangkah mengekor di belakangnya menuju pintu keluar.

‘Oh tidak, aku melupakan sesuatu’, tapi…
Ya sudah lah, kapan-kapan saja. Toh masih ada hari esok, pikirku kala itu. Aku membuang jauh-jauh kekhawatiran ku atas keteledoran itu. Aku segera berjalan lebih cepat nenyusul nya ke parkiran.

Next Chapter… #11
by @terryselvy

Bagian 9: Up To You!

2 cangkir latte + 1 potong cake

“Ehm… kita langsung pulang, atau…”
(Aku mengalihkan pandangan dari ponsel, menatap tepat ke wajahnya)

Aku sengaja menggantung pertanyaanku. Menunggu respon dan tanggapan darinya. Sekaligus berusaha mengusir keheningan di antara kami.

Sudah 1 jam semenjak aku duduk saat kembali dari toilet. Kami masih belum banyak berbicara. Dia masih betah memilih diam. Kami seperti sibuk dengan kesibukan masing-masing. Buka, kami. Hanya aku saja yang mencari kesibukan, berkutat dengan ponsel nya. Men-scroll layar, melihat beberapa gambar yang tampil di beranda platform instagram dia. Tidak ada yang menarik.

“Terserah kamu. Masih ada waktu 2 jam”
(Dia membalas tatapan ku datar)

“Oh, iya. Kamu latihan jam 4’kan?”

“Hmm…”
(hanya itu jawabnya)

“Yaudah, kalau gitu balik dari sini kita ke tempatmu aja. Aku tungguin ganti seragam dan ngambil peralatan. Sekalian nanti berangkatnya bareng, kita”. Saranku, antusias.

Tapi malah dapat tanggapan berlebihan dari dia. Kali ini dia langsung menatap ku tajam seperti minta penjelasan lebih. Tidak seperti tadinya, yang malas tak berekspresi.

Menyadari kebingungan itu, aku malah terkekeh-kekeh geli. Dia kira aku mau ikut latihan lagi. Ya enggak lah, aku sudah lama vakum juga ‘kan latihan. Kalau pun mau ikut gabung bareng mereka lagi, aku butuh persiapan fisik terlebih dahulu. Minimal 2 minggu – 1 bulan buat menempa kembali fisik ku, biar dapat seperti sedia kala/minimal dapat meng-imbangi latihan rutin.

“Eh,, masukku. Balik dari sini aku ikut ke rumah dan nungguin kamu siap-siap dulu biar nggak telat nanti ke tempat latihannya. Nah, abis itu kamu nganterin aku ke gramedia. Pan gramedianya searah sama tempat latihan. Dari pada bolak balik lho, boros. Hehe”. Aku tersenyum canggung.

Dia mengangguk-angguk kecil, sambil ikut tersenyum. Sepertinya dia paham dengan penjelasan ku.

“Trus, mau balik sekarang?”. Tanya dia, sembari membenarkan lengan kemeja nya.

“Err… Terserah, kamu sih”

Kali ini aku yang menjawab terserah atas pertanyaannya. Ngapain coba tadi dia jawab terserah tapi ngasih embel-embel batasan 2 jam segala, saat aku tanya. Biarin dia mikir dan memutuskan sendiri, mau pulang kapan. ‘Kan aku ngikut dia, pikirku ngebales. Wkwk ✌

Akhirnya, tanpa perdebatan apa-apa kita memutuskan kembali dan meninggalkan cafe/ bar coffee, dengan tujuan ikut dia ke kediamannya.

Next Chapter… #10
by @terryselvy

Bagian 8: Don’t Ignore Me

“Lho, kopinya udah dateng kok nggak diminum?”

Sapaku, saat kembali dari toilet. Namun, tidak ada jawaban yang aku dapatkan.

Aku menghampiri meja yang tadi aku tinggalkan bersama seseorang yang masih setia dengan kedua tangan terangkat menopang dagu. Dia seperti melamun, menatap keluar jendela besar nan tinggi dengan lapisan kaca transparan sebagai penambah keindahan interior cafe.

Sembari duduk kembali ke atas kursi tinggi, aku terus memperhatikan wajah orang yang sedari tadi aku tinggalkan diam, bergeming tanpa ekspresi yang jelas. Padahal dia tepat duduk di hadapan ku, semeja denganku, tetapi arah pandangannya tidak lagi lurus menatap ke arah seharusnya, aku.

Sesekali aku mengalihkan pandangan dari orang di hadapan ku ini ke arah tatapan nya di luar sana. Mencoba mencari tau titik pusaran nya. Aku cukup penasaran. Apa yang lagi dia perhatikan? dan apa yang begitu mengganggu pikirannya?

Aku pikir, tidak ada yang menarik di luar sana. Hanya hamparan langit biru yang tanpa cerah, ada jalan raya yang luas, puluhan kendaraan aneka model lalu lalang dengan bebas, beberapa kendaraan sedang parkir di sudut bangunan cafe tua, atau di seberang sana ada butik dan beberapa cafe lagi. Apa menariknya? Sehingga dia begitu nyaman menatap keluar. Aku yang sudah kembali duduk manis, dari tadi pun diabaikan.

Okay. Mungkin dia masih terganggu dengan perdebatan nggak jelas kami beberapa saat yang lalu (baca story sebelum ini), atau ada hal lainnya. Aku tidak begitu tau, karena dia hanya diam mengabaikan ku. Tetapi, tidak seharusnya dia juga mengabaikan minuman kesukaannya.

Bagaimana bisa dia membiarkan coffee cantik yang telah terhidang di meja ini, menjadi dingin. Bukankan mubazir, jika nanti rasanya tidak sebaik sediakala. Setidaknya dia mencicipinya barang seteguk, kali aja masalah yang menghimpit pikirannya dapat berkurang. Berharap kemudian dia mau membaginya denganku. Minimal dia bersedia bercerita, biar aku dapat menghiburnya. Kau seperti ini ‘kan aku merasa nggak enakan, menjadi serba salah.

Next Chapter… #9
by @terryselvy

Bagian 7: Tell Me Anything

Kamu, pande masak?”
Ku jawab, “Enggak”

“Lho, tapi masak bisa’kan?”
Kali ini ku jawab “Bisa”

Lantas…” 🤷‍♂️
Ku diam. Kemudian suasana hening.

Kenapa mulai makan sayuran, lagi?”
“Ya, itu karena nggak mampu beli yang lain”. (sambil tertawa cengengesan).

Melihat dia tak ikut tertawa bahkan tidak berekspresi apa-apa, terpaksa kembali ku timpali dengan penjelasan.

“Eh, nggak deng. Karena aku suka aja.
Karena alesan lain. Haha”. (Lagi, lagi, aku tertawa).

Kali ini dia memilih mengalihkan pandangan keluar jendela cafe.

Apa kamu laper? Delivery aja”. Saranku asal padanya.

Mengingat cafe tempat kami ngobrol tidak menyediakan makanan berat, aku pikir dia laper. Tapi dia hanya membalas dengan sebuah gelengan kepala sambil terus menengok keluar. Hingga belasan menit kemudian. Kami sibuk dengan pemikiran masing-masing.

Ada apa?”

Kali ini aku serius bertanya, karena sedari obrolan masak memasak tadi, dia tak lagi merespon atau mengajak ku berdebat, tidak biasanya aku dianggurin begini saat tidak ada kesibukan.

“Hmm… apa?” (jawabnya malas).

Hanya itu respon yang aku dapatkan.
Sudah ku duga, agaknya mood dia lagi buruk. Tetapi tetap saja, jika ia tak mengutarakannya bagaimana aku bisa tahu. Bagaimana aku bisa menghiburnya. Aku harus apa?

Yaudah, aku ke toilet dulu”.

Aku bergegas meninggalkannya dan menuju toilet. Berharap dia punya cukup waktu sendiri, atau mempersiapkan diri untuk membicarakannya padaku, nanti. Setelah aku kembali duduk di sana.

Toh tidak ada gunanya memaksa dia untuk menceritakannya, yang ada akan memancing perdebatan yang berujung pertengkaran. Aku tau, kami sama-sama keras kepala. Kalau sampai pada situasi perdebatan sengit, pasti tidak akan ada yang mau mengalah. Maka sebelum itu terjadi, aku memilih membiarkannya dan memberi waktu untuk sendiri.

Semoga cara ku ini tidak salah. Karena aku bukanlah tipe orang yang bisa peka apa lagi langsung tau tanpa diberi tau. Meski pun aku tau, aku hanya ingin mendengarkan dari penjelasannya langsung.

Kalau kalian berada diposisi saya pada story di atas. Apa yang akan kalian lakukan? Silakan komen 👇

Next Chapter… #8
by @terryselvy

Bagian 6: Creating Destiny

Setelah bermain, saling mengabadikan momen dengan camera masing-masing, sesekali kami selfie diselingi obrolan tanpa henti, dari ringan, basa-basi, serius, sampai ngawur ngidul, saling curhat apa saja satu sama lain, sesekali bercanda dan dibarengi gelak tawa.

Setelah dirasa cukup, kami akhirnya berhenti dan menepi ke pinggir pantai. Kaki telanjang tanpa alas, dan celana kami sampai lutut basah kecipratan air laut.

Namun, ada rasa bahagia yang terselip. Begitu jelas terlihat di wajah kami masing-masing. Bagaimana tidak, kami sudah lama sekali tidak menyambangi tempat ini.

“Capek?”
Tanya-nya langsung menatap dalam ke mataku.

“Eh, enggak juga, sih. Ada apa?”, elak ku sambil tersenyum.

“Yaudah, kita jalan dikit keujung sana…“. Tatapan ku mengikuti arah yang dia tunjuk. “Gapapa’kan?”

“Ya, gapapa. Selow aja. Kita’kan udah biasa jalan. Bahkan dulu kita pernah tersesat beberapa KM. Haha”. Aku ketawa, sembari mengingatkan kembali kejadian lampau kami.

Dia berjalan di samping ku, mengarahkan langkah kami ke tempat yang dia maksudkan tadi.

Seperti sebuah kuil, pikir ku. Aku baru tau kalau ada tempat seperti ini, di sini.

Di depan pintu masuk, ada sebuah papan penanda dengan tulisan ‘Pikirkan kembali sebelum berbuat, semua perbuatan punya konsekuensi masing-masing. Selalu ingat kalau dunia ini hanyalah mimpi yang bersifat sementara, kehidupan yang sesungguhnya akan menantimu diakhir’ (dug,, detak jantungku)

Tulisan di papan itu sukses membuat ekspresi ku jadi canggung dan tidak bersahabat.

Sampai akhirnya kami masuk. Tidak jauh dari gerbang, kami bertemu Biarawan tua, di sana dia menjelaskan, ‘Artinya dalam setiap keputusan, kita diharuskan untuk memikirkan konsekuensinya baik-baik. Kita harus ingat kalau kesenangan di dunia ini bersifat sementara, hanya kehidupan di akhirat yang akan kekal abadi’

Aku mengerti dengan apa yang ia katakan. Aku tidak bisa menahan rasa penasaran ku untuk bertanya lebih lanjut.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?”

“Pikir dua kali sebelum bertindak. Bukalah pikiranmu dan pikirkan baik-baik konsekuensi yang kau terima ke depannya”

Lagi-lagi peran takdir yang dipertanyakan di sini.

Next Chapter… #7
by @terryselvy

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai